Evaporator recycling solvent

Alat penguapan pelarut hasil ekstraksi bahan obat alam/jamu.

Bengkel peralatan produk herbal

Suasana bengkel "Lansida Group"

Berbagai kapasitas alat suling minyak atsiri

Perlengkapan alat destilasi Lansida Group siap packing yang akan dikirim ke alamat customer.

Alat suling minyak atsiri skala rumah tangga

Salah satu produk alat suling type kukus kohobasi skala rumah tangga.

Tampilkan postingan dengan label Safety in Laboratory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safety in Laboratory. Tampilkan semua postingan

Penggunaan MSDS untuk Pengelolaan B3 dan Limbah B3

Sebuah laboratorium kimia tidak lepas dari penggunaan chemikalia yang salah satu diantaranya bersifat sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3), yang tentunya juga menghasilkan limbah sisa yang bersifat sejenis. Bagi pengguna, baik itu praktikan, peneliti maupun tenaga labaratorium harus mengetahui sifat bahan kimia tersebut agar terhindar dari efek samping yang tidak diinginkan. Paling tidak dapat meminimalisir terpaparnya bahan kimia, produk olahan dan produk samping. Agar tetap aman oleh akibat efek samping tersebut tentunya harus mengetahui sifat dan cara penanganan bahan kimia tersebut lewat informasi data keamanan bahan atau biasa dikenal dengan MSDS (Material Safety Data Sheet).
Didalam laboratorium, bahan kimia merupakan komponen :
  • Bahan baku (starting material)
  • Bahan produk utama
  • Bahan produk samping
  • Bahan untuk analisis
  • Bahan buangan
Terdapat cukup banyak jenis bahan kimia dan limbah bahan kimia tergolong bahan beracun dan berbahaya (B3). Masing-masing jenis bahan kimia mempunyai sifat dan penanganan yang berbeda sehingga sebagai pengguna harus mengenal tiap jenisnya. Kata orang ‘tak kenal maka tak sayang’. Dapat dijabarkan bahwa penggunaan dan penanganan yang aman juga harus memperhatikan informasi data keamanan bahan (MSDS) yang berisi informasi tentang uraian umum bahan, sifat fisik dan kimiawi, cara penggunaan, penyimpanan dan pengelolaan bahan buangan.

Beberapa strategi pengelolaan MSDS di laboratorium antara lain :
  1. Menginventarisasi bahan-bahan kimia yang ada di laboratorium (tidak hanya yang B3)
  2. Mengumpulan dan penelusuran dokumen MSDS
  3. Modifikasi MSDS
  4. Mengarsipan (dapat diakses siapa saja secara mudah dan cepat)
  5. Melaksanakan dan mematuhi rekomendasi dari MSDS
Contoh manfaat MSDS :
Pada kasus termometer pecah, perlu diperhatikan bagaimana mengumpulkan dan membuang merkuri yang tercecer, termasuk menetralisir bahan merkuri tersebut.
Tindakan terhadap tumpahan dan kebocoran tersebut yaitu personil yang terkait jangan sampai mengirup uap/aerosol. Kemudian hindari kontak dengan bahan, pastikan tersedia udara bersih dalam ruangan tertutup dan bekerja dengan kerudung kepala. Sedang penyimpanan bahan harus tertutup rapat di tempat yang berventilasi baik pada suhu 15oC – 25oC dan dapat diakses oleh orang yang berwenang.

Pada kasus preparasi larutan asam sulfat juga perlu diperhatikan bagaimana prosedur preparasi, sarana perlindungan diri dan bagaimana proses penyimpanan. Informasi aturan pada pelabelan EC Directive, asam sulfat mempunyai symbol C yang berarti korosif. Disisi lain dapat mengakibatkan luka bakar pada kulit. Dalam kasus terjadi kontak dengan mata, bilas langsung dengan air yang banyak dan minta nasehat medik. Jangan pernah menambahkan air ke dalam produk ini.

Contoh lain manfaat MSDS pada kasus kecelakaan kebakaran akibat petroleum ether perlu diperhatikan bagaimana teknik pemadaman dan pertolongan pertamanya. Dalam hal ini tindakan yang cocok untuk mencegah kebakaran berlanjut adalah dengan menyemprotkan media pemadam CO2, busa atau powder. Resiko khusus yang muncul pada petroleum ether adalah mudah terbakar, uap lebih berat dari udara, dan dapat membentuk campuran yang dapat terbakar dengan air.
Sedang perlindungan khusus untuk kebakaran yaitu jangan berada di zona berbahaya tanpa peralatan pelindung pernafasan. Untuk menghindari kontak dengan kulit, jaga jarak aman dan gunakan pakaian pelindung yang sesuai. Selanjutnya berhati-hati dengan ledakan awal. Jangan lupa mencegah air pemadam kebakaran memasuki air permukaan atau air tanah.

Informasi lengkap mengenai penggunaan dan penanganan bahan kimia didapat dari
  • Informasi dari produsen seperti Merck, JT Baker, BDH, dll yang berupa buku katalog bahan atau bentuk CD
  • Literatur / buku tentang Health and Safety
  • Material Safety Data Sheet (MSDS)
Yang perlu digarisbawahi pada penggunaan bahan kimia B3 di laboratorium antara lain :
  • Selalu merujuk MSDS (Material Safety Data Sheet)
  • Preparasi bahan dengan benar
  • Pengemasan dan penyimpanan bahan yang tepat
  • Penggunaan pada takaran yang tepat
  • Pengelolaan buangan bahan secara bijaksana

Tips Penanganan Darurat pada Kecelakaan di Laboratorium


Laboratorium merupakan tempat kerja yang berpotensi timbul kecelakaan. Meski kecelakaan kecil dan ringan, tetaplah merupakan kecelakaan yang bisa jadi menimbulkan efek yang lebih besar.
Sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan bisa dari bahan kimia, bahan biologis, radiasi, aliran listrik, dan lainnya. Semua itu bisa membuat efek yang tidak diinginkan seperti keracunan, iritasi, ledakan hingga kebakaran.
Berikut ini merupakan tips cara penanganan awal sebagai pertolongan pertama (P3K) pada kecelakaan di Laboratorium kimia :

Luka bakar akibat zat kimia
Terkena larutan asam
  1. kulit segera dihapuskan dengan kapas atau lap halus 
  2. dicuci dengan air mengalir sebanyak-banyaknya 
  3. Selanjutnya cuci dengan 1% Na2CO3
  4. kemudian cuci lagi dengan air 
  5. Keringkan dan olesi dengan salep levertran.
 Terkena logam natrium atau kalium
  1. Logam yang nempel segera diambil 
  2. Kulit dicuci dengan air mengalir kira-kira selama 15-20 menit 
  3. Netralkan dengan larutan 1% asam asetat 
  4. Dikeringkan dan olesi dengan salep levertran atau luka ditutup dengan kapas steril atau kapas yang telah dibasahi asam pikrat.
Terkena bromin
  1. Segera dicuci dengan larutan amonia encer 
  2.  Luka tersebut ditutup dengan pasta Na2CO3.  
 Terkena phospor 
  1. Kulit yang terkena segera dicuci dengan air sebanyak-banyaknya 
  2. Kemudian cuci dengan larutan 3% CuSO4.
Luka bakar akibat benda panas
  1. Diolesi dengan salep minyak ikan atau levertran 
  2. Mencelupkan ke dalam air es secepat mungkin atau dikompres sampai rasa nyeri agak berkurang
Luka pada mata
Terkena percikan larutan asam

         Jika terkena percikan asam encer,
         Mata dapat dicuci dengan air bersih kira-kira 15 menit terus-menerus
         Dicuci dengan larutan 1% Na2C3

Terkena percikan larutan basa
         Dicuci dengan air bersih kira-kira 15 menit terus-menerus
         Dicuci dengan larutan 1% asam borat dengan gelas pencuci mata

Keracunan
Keracunan zat melalui pernafasan
Akibat zat kimia karena menghirup Cl2, HCl, SO2, NO2, formaldehid, amonia
        Menghindarkan korban dari lingkungan zat tersebut, kemudian pindahkan korban ke tempat  yang berudara segar
         Jika korban tidak bernafas, segera berikan pernafasan buatan dengan cara menekan bagian dada atau pemberian pernafasan buatan dari mulut ke mulut korban

Jika terjadi kecelakaan laboratorium, sebaiknya segera menghubungi Badan Layanan/personel seperti :
  • Biological Safety Officer
  • Pejabat laboratorium
  • Engineering/Water/Gas/Electrical
  • Satpam

Pengelolaan Limbah Laboratorium


Sebelum terinci lebih jauh mengenai bagaimana cara menangani limbah laboratorium, ada baiknya mengingat kembali apakah definisi limbah. Definisi limbah adalah produk buangan yang telah dipakai. Sedang produk limbah laboratorium secara umum adalah limbah bahan kimia. Definisi limbah bahan kimia sendiri adalah buangan bahan kimia yang telah dipakai, campuran bahan kimia atau bahan kimia yang belum dipakai namun sudah rusak.
Sedang teori hukum alam yaitu suatu zat tidak ada yang lenyap (nothing vanishes) artinya bahan kimia apapun apabila dibuang tidak akan lenyap dari lingkungan kita. Ada kemungkinan mengubah material dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Akan tetapi material asli dan material yang telah diubah tetap berada di lingkungan kita. Itulah problematika besar bagi kita. Dengan demikian apabila kita menerapkan manajemen limbah yang baik akan mengurangi efek buruk dari material terhadap lingkungan di masa mendatang.

Laboratorium merupakan salah satu sumber penghasil limbah cair, padat dan gas yang berbahaya bila tidak ditangani secara benar.Sumber limbah tersebut antara lain dari :
Bahan baku kadaluarsa
Bahan habis pakai (misal eluan dan medium biakan yang tidak terpakai)
Produk proses di laboratorium (misal sisa spesimen)
Berkaitan dengan pembuangan limbah ini, bukan hanya ketentuan hukum saja yang mengatur dan menjerat, akan tetapi termasuk juga pengertian tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan. Sehingga sudah semestinyalah harus ditekankan untuk mengumpulkan dan secara profesional membuang residu bahan kimia.

Potensi Polutan Air (WGK)
Perusahaan besar seperti Merck mencantumkan potensi polutan air terhadap berbagai kelas dengan Wassergefaehrdungsklassen (WGK) berdasarkan bahaya polusi yang ditimbulkan.
Kriteria penilaiannya berdasarkan NWG (nicht wassergefaehrdend) yaitu :
0 = tidak berbahaya untuk air
1 = senyawa penyebab polusi ringan
2 = senyawa penyebab polusi
3 = senyawa penyebab polusi berat

WGK 1
WGK 2
WGK 3
Asam asetat
Alumunium klorida
Besi klorida
Magnesium klorida
Metanol
Asetonitril
Klorobenzena
Kobal nitrat
Tembaga(II) sulfat
Timah hitam klorida
Benzena
Kadmium klorida
Kloroform
Nikel sulfat
Kalium kromat

Definisi Limbah Bahan Kimia Berbahaya adalah Limbah yang mempunyai efek toksik dan berbahaya terhadap manusia.
Adapun klasifikasi pengumpulan limbah labotorium antara lain :
Kelas
Jenis
A
Pelarut organik bebas halogen dan senyawa organik dalam
larutan
B
Pelarut organik mengandung halogen dan senyawa organik
dalam larutan
C
Residu padatan bahan kimia laboratorium organik
D
Garam dalam larutan: lakukan penyesuaian kandungan
kemasan pada pH 6 -8
E
Residu bahan anorganik beracun dan garam logam berat dan larutannya
F
Senyawa beracun mudah terbakar
G
Residu air raksa dan garam anorganik raksa
H
Residu garam logam; tiap logam harus dikumpulkan secara terpisah
I
Padatan anorganik
J
Kumpulan terpisah limbah kaca, logam dan plastik

Untuk pelarut organik bebas halogen - kelas A antara lain :
• Aliphatic and alicyclic hydrocarbons
• Aromatic hydrocarbons
• Alcohols
• Ketones
• Esters
• Ethers
• Glycol ethers

Pelarut Organik mengandung Halogen – Kelas B :
CFC (chlorinated fluorinated hydrocarbons)
CHC (chlorinated hydrocarbons)
HHC (halogenated hydrocarbons)

Cara Pengumpulan Limbah Laboratorium
Pembuangan Limbah
  • Limbah laboratorium dikumpulkan dan dibuang dalam wadah terpisah menurut tipe bahan kimia yang berkaitan 
  • Wadah diberi label (A-J) 
  • Dengan label A-J dipastikan bahan kimia yang terkumpul dalam satu kategori tidak bereaksi satu sama lain 
  • Pengecekan untuk kandungan asam dan basa 
  • Sebelum dikumpulkan, lakukan penetralan. Sediakan larutan penetral.
Wadah Cairan Pelarut Organik
Dapat tahan terhadap bahan kimia yang disimpan
Tidak mudah pecah/rusak
Anti-bocor dan rapat gas
Memiliki sertifikat UN untuk pengangkutan limbah internasional
Wadah harus ditempatkan di ruang berventilasi baik
Wadah harus disimpan tertutup rapat untuk mencegah penguapan uap berbahaya
Pilih wadah yang tepat (mengeliminir kebocoran)

Kemasan untuk limbah asam dan basa:
Kemasan kombinasi, 10 l dengan inliner
1. Corong untuk kemasan baja nirkarat
2. Corong untuk kemasan Kombinasi
3. Corong untuk kemasan PE
1                                     2                                  3
Sedang untuk pelarut organik yang secara umum bersifat mudah terbakar, perlakuan wadah/penampungnya :
• Hindari sumber nyala (api terbuka, loncatan listrik, elektris statis, permukaan panas)
Grounding (“Bumikan”) wadah penampungan

Persyaratan Wadah
  • Harus dalam kondisi baik, tidak rusak, bebas dari korosi dan kebocoran. 
  • Bentuk, ukuran dan bahan wadah harus sesuai dengan karakteristik limbah B3 yang hendak dikemas. 
  • Terbuat dari bahan plastik (HDPE, PP atau PVC), atau bahan logam (teflon, baja, karbon, SS304, SS316 atau SS440) dan tidak bereaksi bereaksi dengan limbah B3 yang disimpannya.
Prinsip Pengemasan Limbah B3 :
  1. Limbah yang tidak saling cocok, disimpan dalam kemasan berbeda.
  2. Jumlah pengisian volume limbah harus mempertimbangkan terjadinya pengembangan volume, pembentukan gas atau kenaikan tekanan selama penyimpanan. 
  3. Ganti kemasan yang mengalami kerusakan permanen (korosi atau bocor) dengan kemasan lain. 
  4. Kemasan yang telah berisi limbah ditandai sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 
  5. Kegiatan pengemasan, penyimpanan dan pengumpulan harus dilaporkan sebagai bagian pengelolaan limbah.

Senyawa Inkompatibel (tidak boleh dicampur)


Senyawa


Tidak boleh dicampur dengan
Eksplosif atau
menghasilkan
panas, gas atau
substansi yang
mudah menyala
Menghasilkan gas toksik, atau tidak stabil atau substansi berbahaya
Asam asetat
Alkohol, asam kromat, etilen glikol,asam nitrat,
asam perklorat, peroksida, permanganat

x

Asetat anhidrat
Asam kromat, etilen glikol, asam nitrat, asam perklorat, peroksida, permanganat.
alkohol, air : senyawa yang mengandung hidroksil
x

Aseton
Campuran asam nitrat / asam sulfat pekat
x

Asetilen
halogen, tembaga dan alloy nya, silver dan mercury, garam logam berat
x

Logam alkali
Air, asam, alkohol, halogen, asam halida,oksigen udara,garam, hidrokarbon terhalogenasi, seluruh oksidator, karbondioksida
x

Alkil aluminium
Air, udara,alkohol
x

Aluminium klorida
Air, alkohol, hidrida
x

Bubuk
Aluminium
Semua agen oksidator, asam, alkali,
hidrokarbon halogenasi, peroksida
x

Amoniak dan
alkil amina yang
lebih rendah
halogen, bubuk logam, asam,
merkuri (dari termometer), kalsium
hipoklorit, asam fluorida
x

Ammonium nitrat
Asam, bubuk logam, cairan mudah
menyala, klorat, nitrat, sulfur,
senyawa organik bercabang atau
material mudah menyala
x

Senyawa arsenik
Senyawa pereduksi

x

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari materi diatas seperti :
Manajemen limbah yang baik mengurangi efek buruk dari material terhadap lingkungan
Jangan buang limbah langsung ke lingkungan atau ke saluran air (meledak!)
Limbah juga memberikan potensi polusi terhadap air
Kelompokan limbah laboratorium berdasarkan klasifikasinya
Wadah juga harus dipilih yang sesuai dengan limbah yang ditampung
Perhatikan sifat inkompetibelitas tiap zat kimia yang dibuang yang bisa memunculkan reaksi eksotermis hingga ledakan.
Safety with Lansida: Improving Life
and Environment

Alat Keselamatan Kerja di Laboratorium


Seiring dengan perkembangan teknologi, peralatan kerja di laboratorium sebagai sarana research and development-pun juga semakin berkembang. Artinya kita harus semakin hati-hati bekerja di laboratorium, termasuk selalu memperhatikan keselamatan bagi diri kita dan orang lain yang bekerja di laboratorium. Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka para pengguna diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman.
Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan peralatan keselamatan kerja yang memadai untuk dapat melindungi dan menjamin keselamatan pekerja.
Fasilitas alat untuk melengkapi ruang kerja di laboratorium antara lain :
  • Fire extinguisher 
  • Hidrant
  • Eye washer 
  • Water shower 
Sedang peralatan darurat dan pendukung yang harus tersedia di laboratorium antara lain:
  1. Kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
  2. Tandu 
  3. Spill Kits 
  4. Pakaian pelindung and Respirators 
  5. Peralatan dekontaminasi
  6. Disinfektan and peralatan pembersih 
  7. Peralatan lain (palu, obeng, tali, dll) 
  8. Pita demarkasi, tanda peringatan
Untuk kotak PPPK bisa dilengkapi dengan :
   1. Obat luar 
       - Salep levertran (untuk luka bakar) 
       - Revanol
       - Betadin 
       - Handyplash
    2. Obat ringan
       - Obat-obat anti histamin
       - Norit
    3. Plester Pembalut
        Ukuran kecil, sedang, besar
    4. Kapas, kasa steril

Ada beberapa simbol sebagai tanda peringatan dan label harus terpasang pada botol karena sangat penting untuk untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Contoh simbol seperti ini :


    Alat keselamatan kerja yang lain alat pelindung diri (APD) yang biasa disebut juga dengan PPE (Personal Protective Equipment) yaitu alat yang memberikan perlindungan terhadap bahaya yang mungkin timbul. PPE merupakan peralatan ataupun pakaian yang didesain untuk mengendalikan resiko terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. PPE harus dipilih dengan seksama sesuai tingkat resiko tempat kerja.

    Berdasarkan ketentuan Balai Hiperkes, syarat-syarat Alat Pelindung Diri (APD) adalah :
    1. APD harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh pekerja.
    2. Bobot seringan mungkin dan tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.
    3. Alat harus dapat dipakai secara fleksibe. 
    4. Bentuknya harus cukup menari. 
    5. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama. 
    6. Alat tidak menimbulkan bahaya tambahan bagi pemakainya karena bentuk atau karena salah dalam menggunakannya. 
    7. Sudah sesuai dengan standar yang telah ada. 
    8. Alat tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya. 
    9. Suku cadang mudah didapat untuk mempermudah pemeliharaannya. 
    Adapun jenis resiko kecelakaan di laboratorium misalnya :

    • Luka goresan, injeksi, dll.
    • Pemaparan aerosol (biasanya diluar Biosafety Cabinet/BSC)
    • Tumpahan atau pecahan wadah biakan.
    • Kecelakaan sentrifus
    • Bencana alam, kebakaran dan banjir
    • Luka gigitan dan cakaran hewan coba

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites