Evaporator recycling solvent

Alat penguapan pelarut hasil ekstraksi bahan obat alam/jamu.

Bengkel peralatan produk herbal

Suasana bengkel "Lansida Group"

Berbagai kapasitas alat suling minyak atsiri

Perlengkapan alat destilasi Lansida Group siap packing yang akan dikirim ke alamat customer.

Alat suling minyak atsiri skala rumah tangga

Salah satu produk alat suling type kukus kohobasi skala rumah tangga.

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Peluang Pasar Produk Bahan Alami

Beragam produk herbal alami saat ini mulai dipasarkan meskipun produsen produk alami masih sangat terbatas. Jenis produk alami yang dimaksud adalah produk bahan baku flavor, pewarna alami, pengawet alami, bahan obat alami, kosmetik, desinfektan dan antiseptik. Diantara produk alami tersebut antara lain oleoresin, minyak atsiri, minyak cold pressed, ekstrak bahan obat hingga isolatnya.
Oleoresin merupakan campuran senyawa minyak atsiri dan resin yang diperoleh dengan cara ekstraksi. Dalam perdagangan, sudah banyak oleoresin yang dipasarkan seperti oleoresin jahe (ginger), cabe (capsicum), lada hitam (black pepper), kayu manis (cinnamon bark), bunga cengkeh (clove bud oleoresin), pala (nutmeg oleoresin), paprika oleoresin, dan masih banyak lagi yang lain. Umumnya oleoresin ini bisa berbentuk cair, pasta ataupun padatan tergantung dari komponen senyawa yang terkandung. Fungsi oleoresin adalah sebagai bahan baku flavor, disamping sebagai bahan pengawet alami. Di dunia industri, oleoresin digunakan sebagai bahan baku obat, kosmetik, parfum, pengalengan daging, fresh drink dan masih banyak lagi, hingga industri bakery dan kembang gulapun juga membutuhkan oleoresin.
Kebutuhan bahan alami oleoresin saat ini meningkat tajam. Untuk keperluan ekspor saja, Indonesia belum mampu memenuhi permintaan pasar padahal bahan baku rempah di Indonesia sangat melimpah. Banyak jenis tanaman rempah Indonesia sebagai bahan baku oleoresin hanya bisa tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Sementara pasar/buyer oleoresin seperti daratan Eropa, Amerika termasuk Timur Tengah tidak bisa menanam sendiri bahan rempah yang sangat banyak ragamnya. Ujung-ujungnya mereka akan tetap selalu mengimpor produk rempah sebagai kekayaan hayati Indonesia. Terlebih lagi Eropa yang sudah mengaklamasikan “Back to Nature” untuk masyarakatnya. Masyarakat maju seperti di Eropa memang sudah mulai meninggalkan produk sintetis untuk beralih ke produk alami yang mempunyai efek samping sangat-sangat rendah dibanding produk sintetik. Pertanyaan sederhana yang dilontarkan : kenapa orang Indonesia tidak memproduksi oleoresin? Jawaban dan alasan juga cukup singkat: ‘karena SDM’.
Sebenarnya semua bisa diatasi selama ada alat pendukung dan tenaga yang cukup berkompeten.
Berbagai produk alami yang dibutuhkan pasar ekspor sebenarnya tidak hanya oleoresin saja. Akan tetapi produk lain seperti bahan pewarna alami baik itu pewarna makanan maupun pewarna tekstil. Termasuk desinfektan dan antiseptik saat ini sudah mulai diorientasi menggunakan produk alami, bukan sintetik lagi.
Selain oleoresin, produk bahan alam yang paling eksis di Indonesia adalah minyak atsiri. Minyak atsiri diproduksi dengan cara penyulingan/destilasi dengan perangkat peralatan yang paling sederhana dibanding produk bahan alami lain. Diantara banyak produk minyak atsiri di Indonesia, minyak nilam merupakan produk yang paling populer diperdagangan. Bahkan Indonesia tercatat sebagai produsen dan eksportir minyak nilam terbesar di dunia. Lahan terbesar tanaman nilam sampai saat ini masih didominasi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Sedang sentra nilam di pulau jawa ada di Banyumas, Banjarnegara dan Tulungagung.
Jenis minyak atsiri lain yang berkembang di Indonesia antara lain akar wangi, adas, cendana, cengkeh, gaharu, gandapura, jahe, jeruk purut, kayu manis, kayu putih, kenanga, mawar, melati, peppermint, pala, sedap malam, sereh, dll. Kebutuhan berbagai minyak atsiri, minyak pusaka dan cold pressed silahkan klik www.minyak-atsiri.com. Bagi pemula yang ingin bisnis produk unggulan non migas minyak atsiri, alangkah baiknya mengenal lebih dahulu beberapa hal mengenai seperti :
  • Apakah minyak atsiri itu?
  • Apa saja tanaman penghasil atsiri
  • Bagaimana peluang usahanya
  • Seperti apakah analisis ekonominya
  • Fungsi minyak atsiri dan aplikasinya
Minyak jenis lain adalah minyak cold pressed yaitu minyak diperoleh dengan cara pengepresan tanpa pemanasan agar tidak merusak kandungan lemak dalam minyak. Minyak cold press mengandung dominan lemak tak jenuh tunggal, sisanya lemak tak jenuh dan lemak jenuh. Minyak cold press yang beredar di pasaran antara lain zaitun, wijen, kemiri, canola, jojoba, soybean, biji bunga matahari,dll. Fungsi minyak ini sangat beragam tergantung jenisnya misal untuk bahan dasar, massage, perawatan rambut, pelembab kulit, dll.
Satu lagi produk alam yang paling bermanfaat untuk kebutuhan farmasi fitofarmaka, herbal terstandar dan jamu. Produk fitofarmaka dan herbal terstandar diproses dengan cara ekstraksi untuk mendapat kandungan senyawa aktif yang mempunyai daya toksik sebagai obat alami. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mendapat ekstrak, antara lain sortasi bahan, pengeringan, penyerbukan, ekstraksi zat aktif, filtrasi, evaporasi solvent hingga suspensi ekstrak untuk membuat cair atau penambahan filler untuk produk serbuk. Macam produk ekstrak ini antara lain ekstrak temulawak, meniran, ginseng, mengkudu, dll. Sedang jamu secara umum diolah tanpa proses ekstraksi, namun dari simplisia atau serbuk bahan obat alam yang diramu dengan tepat agar berefek manjur untuk tujuan pengobatan.

Tips bisnis membuat produk bahan alami dan pemasarannya :
  1. Tentukan jenis produknya dan usahakan bahan baku melimpah di daerah anda atau setidaknya bahan baku mudah didapat.
  2. Cari pasar yang menampung produk anda termasuk eksportirnya. Data pasar penampung bisa di-search di BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional) Departemen Perdagangan RI atau di situs nasional seperti DAI (Dewan Atsiri Indonesia). Tanyakan juga bagaimana mekanisme penjualannya.
  3. Petakan pasar produk yang penting saja karena produksi selalu berkaitan dengan supply dan demand, sehingga bisa memproduk lebih spesifik.
  4. Jika sudah mulai memproduksi, sediakan sampel produk karena bagi produsen pemula akan ditanyakan sampelnya oleh pembeli.
Inilah kesempatan emas orang Indonesia untuk meraih sukses dengan menjual berbagai macam produk olahan bahan alami yang jauh lebih profit dibanding menjual bahan mentah dalam bentuk rempah.

Cara Menggunakan Antibiotik yang Benar

Hampir setiap kita sakit, dokter selalu meresepkan jenis obat antibiotik. Tapi apa benar setiap kita sakit harus selalu mengkonsumsi antibiotik? Mari kita cari tahu kebenarannya.
Antibiotik adalah senyawa yang digunakan untuk mengatasi atau melawan infeksi karena bakteri. Jadi jelasnya bahwa antibiotik hanya digunakan jika sesorang terinfeksi bakteri saja. Biasanya mempunyai gejala suhu badan naik (demam) dan nyeri pada bagian tubuh tertentu.

Fenomena penggunaan antibiotik saat ini sudah mulai salah kaprah. Antibiotik yang seharusnya dibeli dengan resep dokter, sekarang banyak di toko obat, warung-warung kecil pinggir jalan, yang seharusnya dijual di apotek saja.
Mungkin pembaca heran mengapa cuma beli amoxicillin saja harus menggunakan resep dari dokter. Jadi begini, tujuan penggunaan antibiotik adalah melawan bakteri yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Untuk keperluan itu dibutuhkan waktu tertentu untuk melumpuhkan masing-masing bakteri. Hal ini tergantung dari jenis bakteri dan keparahan infeksinya. Umumnya waktu penggunaan antibiotik minimal 4-5 hari.

Penggunaan antibiotik yang sembarangan menyebabkan resistensi bakteri. Maksudnya bakteri sudah tidak mempan terhadap antibiotik tertentu. Kenapa bisa begitu..? Ketika antibiotik seharusnya diminum  lima hari misalnya lalu Anda menghentikannya pada hari ketiga karena merasa kondisi tubuh membaik, maka sesungguhnya bakteri yang menyerang tubuh Anda itu belum mati. Mereka hanya pingsan saja, suatu saat menyerang tubuh Anda lagi. Hal ini akan berulang terus selama antibiotik digunakan tidak benar. Akibatnya bakteri bosan dengan antibiotik. Antibiotik Anda sudah tidak mempan, penyakit andapun tidak sembuh. Jadilah antibiotik buah simalakama.
Untuk itu gunakan antibiotik secara rasional yaitu tepat indikasi, tepat penderita, tepat pemilihan jenis antibiotik, tepat dosis, efek samping minimal, kombinasi yang tepat dan ekonomis.

Bagaimana penggunaan yang rasional? Coba perhatikan poin-poin berikut mengenai cara menggunakan antibiotik yang benar.
Pertama, jangan serta merta minum antibiotik setiap kali anda merasa sakit atau tidak enak badan. Pastikan dulu jika memang terinfeksi bakteri.
Kedua, habiskan antibiotic yang sudah diresepkan oleh dokter meskipun anda merasa sembuh.
Ketiga, jangan ragu untuk menanyakan informasi obat yang anda butuhkan kepada apoteker anda.
Keempat, jangan membagi antibiotik anda pada orang lain yang mempunyai gejala hampir sama dengan yang anda alami karena belum tentu obat itu tepat untuk orang lain.

Yang paling penting lagi adalah segera hubungi dokter anda ketika anda sudah menggunakan antibiotik dengan benar namun kondisi anda belum membaik. Tidak perlu ragu untuk selalu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan. Kini saatnya menjadi cerdas dalam menggunakan  antibiotik.

Bedanya Jamu, Herbal Terstandar dan Fitofarmaka


Tidak jauh berbeda dengan perjalanan dari telur, ulat, kepompong, lalu jadilah kupu-kupu. Jamu yang merupakan warisan nenek moyang, ‘bermetamorfosis’ menjadi herbal terstandar hingga tingkatan yang lebih tinggi yaitu fitofarmaka. Namun perubahan tersebut tidak begitu saja karena jamu harus diteliti selama bertahun-tahun dengan menelan biaya milyaran rupiah.
Kategori obat bahan alam antara lain jamu, herbal terstandar dan fitofarmaka. Pengelompokan tersebut berdasar atas cara pembuatan, klaim pengguna dan tingkat pembuktian khasiat.

Jamu
Jamu merupakan bahan obat alam yang sediannya masih berupa simplisia sederhana, seperti irisan rimpang, daun atau akar kering. Sedang khasiatnya dan keamanannya baru terbukti setelah secara empiris berdasarkan pengalama turun-temurun. Sebuah ramuan disebut jamu jika telah digunakan masyarakat melewati 3 generasi. Artinya bila umur satu generasi rata-rata 60 tahun, sebuah ramuan disebut jamu jika bertahan minimal 180 tahun.
Sebagai contoh, masyarakat telah menggunakan rimpang temulawak untuk mengatasi hepatitis selama ratusan tahun. Pembuktian khasiat tersebut baru sebatas pengalaman, selama belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa temulawak sebagai antihepatitis. Jadi Curcuma xanthorriza itu tetaplah jamu. Artinya ketika dikemas dan dipasarkan, prosuden dilarang mengklaim temulawak sebagai obat.
Selain tertulis "jamu", dikemasan produk tertera logo berupa ranting daun berwarna hijau dalam lingkaran. Di pasaran banyak beredar produksi kamu seperti  Tolak Angin (PT Sido Muncul), Pil Binari (PT Tenaga Tani Farma), Curmaxan dan Diacinn (Lansida Herbal), dll.

Herbal Terstandar
Jamu dapat dinaikkan kelasnya menjadi herbal terstandar dengan syarat bentuk sediaannya berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Disamping itu herbal terstandar harus melewati uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmakodinamik (kemanfaatan) dan teratogenik (keamanan terhadap janin).
Uji praklinis meliputi in vivo dan in vitro. Riset in vivo dilakukan terhadap hewan uji seperti mencit, tikus ratus-ratus galur, kelinci atau hewan uji lain.
Sedangkan in vitro dilakukan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Riset in vitro bersifat parsial, artinya baru diuji pada sebagian organ atau pada cawan petri. Tujuannya untuk membuktikan klaim sebuah obat. Setelah terbukti aman dan berkhasiat, bahan herbal tersebut berstatus herbal terstandar.
Meski telah teruji secara praklinis, herbal terstandar tersebut belum dapat diklaim sebagai obat. Namun konsumen dapat mengkonsumsinya karena telah terbukti aman dan berkhasiat. Hingga saat ini, di Indonesia baru 17 produk herbal terstandar yang beredar di pasaran. Sebagai contoh Diapet (PT Soho Indonesia), Kiranti (PT Ultra Prima Abadi), Psidii (PJ Tradimun), Diabmeneer (PT Nyonya Meneer), dll. Kemasan produk Herbal Terstandar berlogo jari-jari daun dalam lingkaran.

Fitofarmaka
Sebuah herbal terstandar dapat dinaikkan kelasnya menjadi fitofarmaka setelah melalui uji klinis pada manusia. Dosis dari hewan coba dikonversi ke dosis aman bagi manusia. Dari uji itulah dapat diketahui kesamaan efek pada hewan coba dan manusia. Bisa jadi terbukti ampuh ketika diuji pada hewan coba, belum tentu ampuh juga ketika dicobakan pada manusia.
Uji klinis terdiri atas single center yang dilakukan di laboratorium penelitian dan  multicenter di berbagai lokasi agar lebih obyektif. Setelah lolos uji fitofarmaka, produsen dapat mengklaim produknya sebagai obat. Namun demikian, klaim tidak boleh menyimpang dari materi uji klinis sebelumnya. Misalnya, ketika uji klinis hanya sebagai antikanker, produsen dilarang mengklaim produknya sebagai antikanker dan antidiabetes.
Kemasan produk fitofarmaka berupa jari-jari daun yang membentuk bintang dalam lingkaran. Saat ini di Indonesia baru terdapat 5 fitofarmaka, contoh Nodiar (PT Kimia Farma), Stimuno (PT Dexa Medica), Rheumaneer PT. Nyonya Meneer), Tensigard dan X-Gra (PT Phapros).

Itulah tiga kriteria produk bahan alam dan tahapan panjang yang harus dilalui oleh produsen obat bahan alam untuk mendapatkan status tertinggi sebagai obat yaitu fitofarmaka. Semua uji tersebut ditempuh demi keamanan konsumen.

Tujuh Masalah Kesehatan di Indonesia


Ungkapan yang sering diucap oleh masyarakat kita begini ”kesehatan itu mahal harganya”. Tapi bagaimana cara memaknai dan menerapkan pola hidup sehat ? Memang tidak mudah, karena banyak faktor yang menjadi penyebab masyarakat kita terlanjur jatuh kedalam derajad kesehatan yang rendah. Hingga saking kompleksnya, penanganan agar bisa mengarah pada pola sehatpun menjadi semakin sulit.
Setidaknya ada 7 faktor pokok yang menyebabkan derajat kesehatan masyarakat rendah, yang antara lain :
Pertama : Ketimpangan derajat disparitas kesehatan.
Berdasar data-data yang ada, secara umum, status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia telah mengalami peningkatan walaupun masih lebih rendah dibandingkan dengan status kesehatan di negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina. Ketimpangan derajat kesehatan masyarakat terlihat pada antar tingkat sosial ekonomi, antar kawasan, dan antar perkotaan-pedesaan (Bappenas, 2007). Angka kematian balita %til golongan termiskin menunjukkan 4 kali lebih tinggi yaitu 61 dibandingkan dengan 17 /1000 kelahiran pada kelompok terkaya. Selain itu, angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan lebih tinggi pada tingkat pendidikan rendah, di pedesaan, dan kawasan bagian timur Indonesia. Selain itu, cakupan imunisasi dasar bagi anak balita dari penduduk golongan miskin lebih rendah dibanding golongan kaya. Tingginya kematian anak dan balita yang berstatus gizi kurang dan buruk  di daerah pedesaan relatif lebih tinggi dibanding anak perkotaan. Sedangkan kematian ibu yang tinggi dikarenakan masih rendahnya persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Hal ini semua dikarenakan oleh berbagai hal yaitu selain penduduk miskin lebih rentan terhadap berbagai infeksi seperti ISPA, diare, tetanus neonatorum, juga karena berbagai komplikasi lain serta karena penyakit tuberkulosis paru, malaria dan HIV/AIDS yang lebih banyak diderita oleh penduduk miskin.
Akses pelayanan kesehatan yang rendah ini disebabkan karena kendala geografis, psikologis, dasar indikator angka kematian bayi, kematian ibu melahirkan, usia harapan hidup dan prevalensi gizi kurang.

Kedua : Masalah double burden of diseases.
Pergeseran pola penyakit infeksi seperti tuberculosis paru, ISPA, malaria, diare dan penyakit kulit menjadi penyakit jantung & pembuluh darah , diabetes mellitus (DM) dan kanker, telah menyebabkan terjadinya polarisasi penyakit ( BPS, 2006). Penyakit tidak menular tersebut telah menduduki urutan ke – 5 besar penyakit terbanyak di Indonesia ( Kosen 2004). Selain itu, penyakit baru ( emerging diseases) seperti demam berdarah (DBD), HIV dan AIDS, Chikungunya dan Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) mulai bermunculan. Polarisasi penyakit tersebut menjadikan beban ganda dalam waktu yang bersamaan (double burden), disertai meningkatnya jumlah penduduk, serta perubahan struktur umur penduduk yang bergeser ke usia produktif dan lanjut menyebabkan terjadinya tuntutan perubahan jumlah dan jenis pelayanan kesehatan masyarakat (Wilopo, 1994).

Ketiga : Rendahnya upaya pencegahan dan perilaku hidup sehat.
Masalah kesehatan masyarakat Indonesia sebenarnya dapat dicegah secara teoritis atau diintervensi dengan upaya sederhana dan terjangkau, namun kenyataannya berbagai masalah masih muncul akibat rendahnya pelayanan pencegahan kesehatan (Wilopo, 2006). Oleh karena itu , upaya peningkatan pencegahan kesehatan dasar merupakan masalah pokok dalam meningkatkan derajat kesehatan penduduk. Rendahnya upaya peningkatan pencegahan  kesehatan dasar merupakan masalah pokok dapat dilihat dari berbagai indikator  seperti angka imunisasi lengkap, angka anak diare, angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan , angka penemuan kasus TB baru ( Case Detection Rate). Cakupan imunisasi lengkap untuk umur  12 – 23 bulan ternyata baru mencapai 58%, dengan variasi antara 23.7% di Papua Barat dan 93,8% di DIY (BPS, 2008).
Perilaku masyarakat yang tidak sehat lainnya adalah tingginya kebiasaan merokok yaitu sebesar 32 % (BPS, 2006). Angka penduduk di bawah usia 20 tahun  yang mulai merokok sebesar 60% tahun 1995 menjadi 68% tahun 2001.

Keempat : Masih rendahnya kondisi kesehatan lingkungan.
Hal ini terlihat dari masih rendahnya akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar. Pada tahun 2007, persentase rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air bersih baru mencapai 50% dan akses rumah tangga terhadap sanitasi dasar baru mencapai 63.5% (DepKes, 2007).

Kelima : Masih rendahnya keterjangkauan pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan.
Hampir di semua kabupaten/Kota telah memiliki RS Pemerintah, namun kualitas pelayanan sebagian besar masih rendah, yang berakibat banyak anggota masyarakat kurang puas terhadap mutu pelayanan RS dan Puskesmas. Ketidak puasan terutama dikarenakan lambatnya pelayanan, kesulitan administrasi dan lamanya waktu tunggu (DepKes, 2008).

Keenam : Mahalnya harga obat.
Berbagai suplemen dan obat-obatan  dan makanan semakin banyak di pasaran yang dijual bebas. Masyarakat membutuhkan pelayanan dalam menjamin kualitas obat dan makanan yang beredar dan dikonsumsi. Karena sebagai dampak globalisasi yang terkait perdagangan bebas, kondisi kesehatan masyarakat, menjadi semakin rentan akibat konsumsi obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan dan mutu dan keamanan ( BPOM, 2009). Pendidikan tentang bahaya penggunaan obat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat perlu dilakukan terus menerus. Suplemen makanan yang tidak mempunyai EBM harus ditarik dari peredaran.

Ketujuh : Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi yang tidak merata.
Indonesia membutuhkan kecukupan tenaga kesehatan di semua aspek. Pada tahun 2007 diperkirakan per 100.000 penduduk baru dapat dilayani oleh 7,7 dokter umum, 2.7 dokter gigi, 3.0 dokter spesialis dan 8.0 bidan . Sedangkan Tenaga Kesehatan Masyarakat per 100.000 penduduk baru dilayani oleh 0.5 Sarjana Kesehatan Masyarakat, 1.7 Apotheker, 6.6 ahli gizi, 0.1 tenaga epidemiologi, 4.7 tenaga sanitasi (Giatno 2008).
Keterbatasan ini diperburuk dengan  ketidak merataannya tenaga kesehatan misalnya sebanyak  2/3 tenaga kesehatan berada di pulau Jawa.
Bagaimana dengan tuntutan masyarakat kepada fasilitas pelayanan dengan standar global? 
Hal ini memerlukan kebijakan yang mendalam dari berbagai stakeholders terkait.

Cara Menggunakan Micropipet

Mikropipet (micropipet) adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan cairan dalam jumlah kecil secara akurat. Penggunaan pipet gelas seperti pipet ukur dan pipet gondok tidak mempunyai akurasi yang tinggi untuk volume kurang dari 1 ml. Sehingga pada pemindahan cairan dengan volume kecil kurang dari 1000 microliter, orang cenderung menggunakan mikropipet, biasa juga disebut dengan pipet otomatis. Pipet otomatis ini mempunyai akuraritas dan presisi yang lebih baik dari pada pipet gelas. Disamping itu setiap pipet dapat diset berapapun volumenya selama dalam range volume pipet. Ada beberapa macam merek mikropipet yang beredar dipasaran seperti Gilson, Pipetman, dll.  
Meskipun produk mikropipet telah dirancang akurat dan presisi oleh pabriknya, alat tersebut tetap harus dikalibrasi jika digunakan untuk laboratorium yang terakreditasi.
Ada beberapa macam mikropipet yang biasa dipakai di laboratorium, seperti misalnya merk Gilson ada tertulis P20, P200 dan P1000 pada kepala pipet.
Macam-macam ukuran mikropipet
P20 dimaksudkan untuk memipet larutan pada volume antara 2 - 20 ul
P200 untuk memipet larutan pada volume antara 20 – 200 ul
P1000 untuk memipet larutan pada volume antara 100 – 1000 ul
Bagian-bagian mikropipet

Bagian-bagian dari mikropipet terdiri dari Automatic Pipettor dan Pipette tips. Automatic Pipettor berfungsi untuk memompa cairan yang akan dipindahkan dengan volume yang telah diset, sedang Pipette tips merupakan pasangan mikropipet yang berfungsi untuk menampung cairan yang dipompa. 








Pengoperasian Mikropipet
Ada beberapa tahapan untuk mengoperasikan mikropipet secara benar yang antara lain :
  1. Set volume
  2. Pasang tip disposable
  3. Tekan penyedot sampai pembatas pertama
  4. Masukkan tip ke sampel
  5. Ambil sampel
  6. Tahan
  7. Tarik tip
  8. Keluarkan sampel
  9. Tarik pipet
  10. Lepaskan tekanan penyedot
  11. Lepaskan tip
Nah, berikut ini saya uraian lengkapnya :
Tahap 1 : Atur volume dengan cara memutar knop pengatur volume, saya contohkan begini...

Tahap 2 : Pasanglah tip disposable yang telah tertata pada wadah dengan cara menancapkan ujung mikropipet seperti gambar di samping kanan.


Tahap 3 : Tekan penyedot pipet sampai pada batas pertama.





Tahap 4 : Benamkan tip kedalam cairan yang akan dipindahkan.                                                        

Tahap 5 : Pengambilan sampel
Untuk mengambil sampel ke dalam tip, jagalah tekanan balik berjalan secara perlahan dan halus sampai penuh ke posisi sebelum penyedotan. Jangan birakan penyedot bergerak cepat dan tiba-tiba. Biarkan tip tetap dibawah permukaan sampel selama pengambilan.

Tahap 6 : Berhenti sesaat
* Tunggu sesaat untuk memastikan seluruh sampel yang disedot sudah mengisi tip.
* Tunggu lebih lama lagi untuk pengambilan volume yang lebih besar.
* Tunggu lebih lama untuk sampel yang mempunyai viskositas yang lebih besar.
Cara menghilangkan
cairan menempel
yang benar

Cara menghilangkan
 cairan menempel
yang salah


Tahap 7 : Penarikan tip dari sampel
Pindahkan tip dari cairan sampel. Perlu diperhatikan : tidak boleh ada cairan tertinggal di bagian luar tip dan lap/usap butiran cairan di luar dengan tissue, tetapi hanya dari bagian samping saja. Jangan sentuhkan tissue pada bagian bawah/ujung tip.

Tahap 8 : Pengeluaran Sampel
Untuk mengeluarkan sampel dari pipet caranya sebagai berikut :
  1. Sentuhkan tip pada dinding wadah penampung sampel.
  2. Tekan penyedot sampai pembatas pertama.
  3. Tahan paling tidak 1 detik, 1-2 detik untuk P-1000, 2-3 detik untuk P-5000 atau lebih lama untuk sampel yang mempunyai viskositas yang lebih tinggi.
  4. Tekan penyedot ke pembatas kedua untuk mengeluarkan sisa-sisa cairan.
Mulai mengeluarkan              Pembatas 1              Pembatas 2
Tahap 9 : Penarikan pipet
Dengan penyedot masih dalam posisi tertekan tarik pipet dari wadah penampung sampel dengan terus menempelkan tip didinding wadah khususnya ketika pemipetan dalam jumlah kecil.

Tahap 10 : Melepaskan tekanan penyedot
Secara pelan-pelan biarkan penyedot kembalia pada posisi UP. Jangan biarkan tertekan kembali.
 
Tahap 11 : Melepas tip
Lepaskan tip dengan cara menekan ejector seperti gambar.

Akurasi dan Presisi
Akurasi maksudnya kedekatan volume yang di keluarkan terhadap volume yang diset di pipet. Akurasi ini ditunjukkan
dari angka rata-rata eror, penyimpangan pengukuran berulang terhadap volume yang diset.
Sedang presisi adalah reprodusibiliti pengukuran individual untuk volume yang sama. Presisi ditunjukkan oleh standar deviasi (SD).
Akurasi relatif secara umum adalah 1% atau kurang, sedang presisi kurang dari 0,5 % kecuali digunakan volume terkecil yang dianjurkan dari model.
Gunakan mikropipet yang sesuai dengan volume yang akan diukur/dipipet. Menggunakan pipet dibawah volume yang dianjurkan akan menghasilkan kesalahan yang lebih besar.

Untuk mendapatkan reprodusibilitas optimal ikuti saran sebagai berikut :
  1. Konsisten dalam KECEPATAN dan KEHALUSAN saat menekan dan melepaskan penyedot.
  2. Tekanan yang konsisten dalam penekanan penyedot pada pembatas pertama.
  3. Kedalaman penyedotan yang cukup dan konsisten.
  4. Posisi pemipetan hampir vertikal.
  5. Jangan sampai ada gelembung udara.
  6. Jangan pernah meninggalkan pipet pada posisi mendatar apalagi terbalik saat tip terisi sampel.
Dengan demikian, jika Anda bekerja dengan mikropipet akan memperoleh hasil yang akurat, presisi dan alat tidak mudah rusak.
Selamat bekerja.....

Kadar Kafein pada Beberapa Merek Kopi

Photograph supplied by Anif Usman
Beberapa waktu lalu saya menguji kandungan kafein pada beberapa merek kopi yang beredar di pasaran. Merek yang saya sampling antara lain Kapal api, Kopi Lampung, Kopi Luwak, Nescafe dan Kopi cap Singa. Semua dalam bentuk bubuk murni, bukan kemasan kopi campur (coffee mix). Metode pengujian saya pilih dengan metode TLC densitometri atau kromatografi lapis tipis (KLT) dengan eluen etil asetat : metanol : air (100 : 13,5 : 10) dan fase diam menggunakan silika gel 60 F254. Sedangkan jarak rambat eluasi 8,5 cm dan Rf kafein 0,44.

Hasil analisis kadar kafein pada beberapa merek kopi yang beredar di pasaran sangat variatif. Secara umum orang memilih kopi bukan karena berapa kadar kafein yang terkandung, tapi karena kenikmatan yang telah dirasa, termasuk efek sedatifnya, itu yang dipilih.
Kalau dalam kemasan produk rokok tertera kadar nikotin dan tar tiap batangnya, bisa jadi di masa yang akan datang juga dituliskan kadar kafein, teofilin atau teobrominnya pada tiap kemasan kopi.

Kafein merupakan jenis metabolit sekunder alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi, daun teh, biji coklat ataupun biji kola. Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan mempunyai pH 6.9 dalam larutan kafein 1% dalam air.
Dari sisi medis, efek langsung kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsung, seperti menstimulasi pernafasan dan jantung, serta memberikan efek samping yang tidak enak seperti rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia), dan denyut jantung tak berarturan (tachycardia).
Efek farmakologi dan efek samping kafein pada setiap orang berbeda-beda, tergantung kepekaan setiap orang terhadap kafein. Beberapa expose mengenai kepekaan kafein terhadap ibu yang sedang hamil menyebutkan bahwa konsumsi kafein menyebabkan kelahiran bayi yang cacat. Namun demikian memang belum ada penelitian pra klinik maupun klinik terhadap manusia dan hewan mengenai efek kafein pada konsumsi kopi normal.
Meskipun demikian tetap disarankan pada perempuan yang sedang hamil untuk mengurangi konsumsi kafein setiap harinya.

Berikut ini adalah kandungan kafein dalam beberapa kemasan produk kopi yang ada di pasaran :

Perbedaan kandungan kafein dalam kopi memang menunjukkan adanya proses pengolahan biji kopi yang berbeda. Secara umum kebanyakan produk olahan kopi dibuat agar mempunyai kadar kafein yang rendah.
Ada beberapa cara pengolahan kopi agar mempunyai kadar kafein yang rendah, antara lain dengan memfraksi kafein dengan pelarut organik, proses bioteknologi dan metode Swiss Water Process.
Penggunaan pelarut kimia bisa dilakukan dengan memfraksi senyawa semipolar kafein, langsung dari biji kopi. Jika menggunakan bioteknologi biasanya dengan memanfaatkan bakteri yang dipasangkan dengan theophylline, yaitu senyawa yang dihasilkan untuk merusak kafein (caffeine) pada tanaman kopi dan teh. Diharapkan bakteri ini dapat menghancurkan kafein secara cepat, tetapi tetap mempertahankan rasa alami kopi yang nikmat. Atau dapat pula menggunakan tehnik Swiss Water Process yaitu menggunakan air panas dan uap untuk memisahkan kafein dari biji kopi.

Bagi para penggemar kopi bisa memilih sesuai keinginan, kalau saya tentu memilih kopi yang mempunyai aroma nikmat. Tapi kalau sudah tahu kadar kafein di setiap merek kopi, tentu juga saya pilih kopi yang paling nikmat diantara kadar kafein yang terendah.
Meskipun kopi memberikan banyak manfaat, ada yang paling penting yaitu bagaimana kita bisa mengkonsumsi kopi secara wajar. Karena kebanyakan minum kopi akan memberikan efek samping yang disebabkan oleh kandungan kafein. Secara umum, minum kopi sampai 6 gelas (terkandung + 600 mg kafein) memang belum memberikan efek samping. Namun demikian perlu diperhatikan juga kandungan kafein juga ada didalam teh, minuman berenergi, es cream, termasuk juga obat ringan seperti obat sakit kepala.
Berikut ini efek samping yang muncul jika kebanyakan minum kopi :

1. Gelisah
Tidak semua orang mengalami efek samping gelisah, namun penelitian di University of Michigan membuktikan keparahannya bisa menyebabkan seseorang mudah tersinggung bahkan sampai tangannya gemetar.

2. Gangguan kardiovaskular
Jantung akan terasa berdebar-debar bila terlalu banyak minum kopi, karena dalam kadar tertentu kafein dapat mempengaruhi susunan saraf pusat di otak.

3. Sakit kepala

Efek sakit kepala bisa muncul jika mengkonsumsi terlalu banyak, misalnya minum lebih dari 2-3 cangkir kopi espresso atau 5-6 cangkir kopi biasa setiap hari.

4. Gangguan pencernaan
Dikeluhkan juga rasa mulas dan rasa mual dalam perut. Bukan karena kopinya sudah basi, tapi kafein itu sendiri memang meningkatkan produksi asam di lambung sehingga tidak dianjurkan minum kopi sebelum makan.

5. Gangguan kencing
Disaat udara dingin, menghangatkan diri dengan minum kopi bukanlah ide yang baik. Hawa dingin saja sudah menyebabkan kencing menjadi lebih sering, ditambah efek samping kafein sebagai diuretik maka beser akan tambah parah.

6. Insomnia
Efek samping paling umum dari minum kopi terlalu banyak adalah tidak bisa tidur. Umumnya efek ini berdampak bagi kaum usia lanjut. Bagi yang masih muda mungkin hanya memicu rasa lelah saja.

Bagi penggemar kopi, paling aman adalah minum dalam jumlah wajar agar kafeinnya memberikan manfaat bagi tubuh kita, namun berefek samping seminim mungkin.
Salam kopi ndangdut...

Daftar Laboratorium Eksakta di UGM

Inilah daftar nama laboratorium di fakultas-fakultas exact di lingkungan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

1. FAKULTAS BIOLOGI
  1. Lab. Anatomi Hewan
  2. Lab. Biokimia
  3. Lab. Entomologi
  4. Lab. Fisiologi Tumbuhan
  5. Lab. Parasitologi
  6. Lab. Taksonomi Hewan
  7. Lab. Mikroteknik & Embriologi Tumbuhan
  8. Lab. Anatomi Tumbuhan
  9. Lab. Ekologi
  10. Lab. Fisiologi Hewan
  11. Lab. Genetika
  12. Lab. Kultur Jaringan Tumbuhan
  13. Lab. Mikrobiologi
  14. Lab. Histologi & Embriologi Hewan
  15. Lab. Taksonomi Tumbuhan
2. FAKULTAS FARMASI
Bagian Biologi Farmasi
1.      Laboratorium Farmakognosi
2.      Laboratorium Fitokimia
Bagian Farmasetika
1.      Laboratorium Manajemen Farmasi dan Farmasi Komunitas
2.      Laboratorium Farmasi Fisik
3.      Laboratorium Teknologi Farmasi
Bagian Kimia Farmasi
1.      Laboratorium Kimia Medisinal
2.      Laboratorium Kimia Farmasi Analitik
Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik
1.      Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi
2.      Laboratorium Farmasi Klinik dan Farmakoterapi

3. FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
  1. Bagian Biologi Mulut
  2. Bagian Ilmu Bedah Mulut
  3. Bagian Ilmu Biomaterial
  4. Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Dasar
  5. Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak
  6. Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
  7. Bagian Konservasi Gigi
  8. Bagian Ilmu Penyakit Mulut
  9. Bagian Ortodonsia
  10. Bagian Periodonsia
  11. Bagian Prostodonsia
4. FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
  1. Anatomi
  2. Fisiologi
  3. Biokimia
  4. Farmakologi
  5. Parasitologi
  6. Patologi
  7. Patologi Klinik
  8. Mikrobiologi
  9. Kesehatan Masyarakat Veteriner
  10. Reproduksi dan Kebidanan
  11. Bedah dan Radiologi
  12. Ilmu Penyakit Dalam
5. FAKULTAS KEHUTANAN
  1. Lab. Perlindungan Kesehatan Hutan
  2. Lab Pelestarian Alam
  3. Lab Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
  4. Lab Ekologi Hutan
  5. Lab Kepariwisataan Alam
  6. Lab Pengelolaan Satwa Liar
6. Fakultas MIPA
#Jurusan Kimia
1.Laboratorium Kimia Analitik
2.Laboratorium Kimia Anorganik
3.Laboratorium Kimia Dasar
4.Laboratorium Kimia Fisik
5.Laboratorium Kimia Organik
#Jurusan Fisika
1.Lab. Fisika Dasar
2.Lab Atomic Nuclear Physics
3.Lab Condensed Matter Physics
#Jurusan Elins
1.Lab Elektronika dan Instrumentasi

7. FAKULTAS PERTANIAN
1.      Jurusan Budidaya Pertanian :
1)      Manajemen Produksi Tanaman
2)      Hortikultura
3)      Ilmu Tanaman
4)      Ekologi Tanaman
5)      Genetika & Pemuliaan Tanaman
6)      Budidaya Jaringan
7)      Teknologi Benih
8)      Biometrika

2.   Jurusan Perlindungan Tanaman :
  1. Lab. Entomologi Dasar
  2. Lab. Entomologi Terapan
  3. Lab. Pengendalian Hayati
  4. Lab. Nematologi Pertanian
  5. Lab. Mikologi Pertanian
  6. Lab. Bakteriologi Tumbuhan
  7. Lab. Virologi Tumbuhan
  8. Lab. Ilmu Penyakit Tumbuhan Klinik
  9. Lab. Toksikologi Pestisida
  10. Lab. Terpadu Penyakit Tumbuhan
    3.      Jurusan Tanah :
1)      Lab. Tanah Umum
2)      Lab. Pedologi
3)      Lab. Kimia dan Kesuburan Tanah
4)      Lab. Fisika Tanah
5)      Lab. Pengelolaan Tanah
6)      Lab. Agroklimatologi
7)      Lab. Agrohidrologi

4.      Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
1)      Laboratorium Pengkajian Kebijakan Pertanian dan Pangan
2)      Laboratorium Pengkajian Sumberdaya dan Lingkungan Pertanian
3)      Laboratorium Pengkajian Agribisnis
4)      Laboratorium Pengkajian Ekonomi Rumah Tangga Pedesaan
5)      Laboratorium Pengkajian Koperasi Pertanian
6)      Laboratorium Pengkajian Masalah Sosial Pertanian
7)      Laboratorium Pengkajian Penyuluhan Pertanian
8)      Laboratorium Pengkajian Komunikasi Pertanian
9)      Laboratorium Pengkajian Komputasi dan Statistik
10)  Laboratorium Pangkajian Praktek Lapangan Sosial Ekonomi Pertanian.

5.      Jurusan Perikanan
1)      Lab. Hama dan Penyakit Ikan
2)      Lab. Hidrobiologi
3)      Lab. Akuakultur
4)      Lab. Pembenihan dan Pemuliaan Ikan
5)      Lab. Ekologi Perairan
6)      Lab. Mikrobiologi Hasil Perikanan
7)      Lab. Teknologi Ikan
8)      Lab. Ilmu Makanan Ikan
9)      Lab. Sosial Ekonomi Perikanan
10)  Lab. Manajemen Sumberdaya Perairan
11)  Lab. Alat dan Teknik Penangkapan Ikan
12)  Stasiun Kolam Percobaan
13)  Stasiun Kolaborasi

6.      Jurusan Mikrobiologi Pertanian
1)      Laboratorium Mikrobiologi Pertanian Dasar
2)      Laboratorium Genetika Mikrobia
3)      Laboratorium Fisiologi Mikrobia
4)      Laboratorium Ekologi Mikrobia
5)      Laboratorium Mikrobiologi Agroindustri
6)      Labortorium Mikrobiologi Tanah dan Lingkungan

8. FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
1.      Laboratorium Kimia dan Biokimia Pengolahan.
2.      Laboratorium Bioteknologi.
3.      Laboratorium Pangan dan Gizi.
4.      Laboratorium Rekayasa Proses Pengolahan.
5.      Laboratorium Teknik Produk dan Proses Pertanian.
6.      Laboratorium Bangunan dan Lingkungan Pertanian.
7.      Laboratorium Energi & Teknik Mesin Pertanian.
8.      Laboratorium Teknik Sumberdaya Alam Pertanian
9.      Laboratorium Fisika Hayati.
10.  Laboratorium Uji Mutu dan Standardisasi.
11.  Laboratorium Manajemen Sistem Industri.
12.  Laboratorium Sistem Produksi.
13.  Laboratorium Analisa dan Simulasi Sistem.
14.  Laboratorium Bioindustri.
15.  Rekaindustri dan Pengendalian Produk Samping.
16.  Laboratorium Inkubator.

9. FAKULTAS PETERNAKAN
1. Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak (Department of Animal Nutrition and Feed Science)

-Laboratorium Biokimia Nutrisi (Nutritional Biochemistry Laboratory)
-Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (Forage and Pasture Science -Laboratory)
-Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (Animal Nutrition Laboratory)
-Laboratorium Teknologi Makanan Ternak (Feed Technology Laboratory)

2. Departemen Produksi Ternak (Department of Animal Production)
- Laboratorium Ilmu Ternak Perah dan Industri Persusuan (Dairy Science and Milk Industry Laboratory)
- Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan (Meat, Draught, and Companion Animals Laboratory)
- Laboratorium  Ilmu Ternak Unggas (Poultry Science Laboratory)

3. Departemen Sosial Ekonomi Peternakan (Department of Livestock Sosio-Economics)
- Laboratorium Agrobisnis Peternakan (Livestock Agribusiness Laboratory)
- Laboratorium Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat (Communication and Community Development Laboratory)

4. Departemen Teknologi Hasil Ternak (Department of Animal Products Technology)
- LaboratoriumTeknologi Susu dan Telur (Food of Animal Product Laboratory)
- Laboratorium Teknologi Kulit, Hasil Ikutan dan Limbah Peternakan (Leather, Waste and By-Products Technology Laboratory)
- Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging

5. Departemen Pemuliaan dan Reproduksi Ternak
- Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Ternak (Animal Breeding Laboratory)
- Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak (Animal Physiology and Reproduction Laboratory)

10. FAKULTAS KEDOKTERAN
1)      Lab Biologi Molekular
2)      Lab Biokimia
3)      Lab Farmakologi & Toksikologi
4)      Lab Ilmu Faal
5)      Lab Parasitologi
6)      Lab Anatomi
7)      Lab Patologi Klinik
8)      Lab Teknologi Medik

11.  FAKULTAS GEOGRAFI
1.      Laboratorium Geomorfologi Dasar
2.      Laboratorium Geografi Tanah
3.      Laboratorium Hidrologi dan Kualitas Air
4.      Laboratorium Geohidrologi
5.      Laboratorium Geomorfologi Terapan
6.      Laboratorium Hidrometeorologi dan Kualitas Udara
7.      Laboratorium Permukiman dan Sumberdaya
8.      Laboratorium Kependudukan dan Tenaga Kerja
9.      Laboratorium Geospasial Pesisir di Parangtritis
10.  Laboratorium Kartografi dan Reproduksi Peta
11.  Laboratorium Disain dan Konstruksi Peta
12.  Laboratorium Penginderaan Jauh Dasar
13.  Laboratorium Penginderaan Jauh Terapan
14.  Laboratorium Analisis Data Wilayah
15.  Laboratorium Analisis Perencanaan Partisipatif & Pengembangan Masyarakat
16.  Laboratorium Perencanaan Penggunaan lahan dan Tata Ruang

12.  Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan
  1. Lab Hidrolika
  2. Lab Transportasi
  3. Lab Struktur
  4. Lab Penyehatan
  5. Lab Mekanika Tanah
  6. Lab Bahan Bangunan
  7. Lab Komputasi
13. Jurusan Teknik Mesin
  1. Lab Konversi Energi
  2. Lab Perpindahan Kalor
  3. Lab Bahan Teknik
  4. Lab Aerodinamika
  5. Lab Mekanika Fluida
  6. Lab Getaran & Akustik
  7. Lab Proses Produksi

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites