Kencur (Kaempferia galangan L.)

Suku : Zingiberaceae

Kandungan kimia
Rimpang mengandung minyak atsiri yang tersusun dari monoterpenoid, sesqui-terpenoid (komponen utama adalah asam etilestersinnamat dan asam etilester p-metoksinamat) borneol, kamfene, p-metoksistiren,n-pentadekan, p-metoksi-stirene. Di samping itu terdapat pula golongan senyawa flavonoid.2,3,6)
Kamfene (C10H16) juga menjadi bahan penyusun minyak atsiri jahe, dan minyak sereh, dan juga ditemui dalam familia Lauraceae.
Borneol (C10H18O) banyak tersebar di alam sebagai komponen minyak atsiri. Di bidang industri borneol murni bersama juga isoborneol digunakan sebagai bahan baku penyusun parfum dan bahan pengester. Borneol murni bersifat racun, mengakibatkan kekacauan mental dan bingung.8)



Sifat-sifat fisika minyak kencur:
  • Bentuk cairan, aromatis, rasa pedas, berwarna kuning jernih sampai kuning kotor.
  • Berat jenis pada 30 drjt : 0,8792 - 0,8914
  • Rotasi optik spesifik pada 30 drjt : -2O36’ sampai -4O30’
  • Indeks bias pada 30 drjt : 1,4773 - 1,4855
  • Bilangan asam : 0,5 - 1,3
  • Bilangan penyabunan : 99,7 - 109,0
  • Bilangan penyabunan setelah asetilasi : 110,1 - 116,3
Persyaratan mutu.
Sebagai obat, bahan ini tersedia dalam bentuk simplisia Kaempferiae Rhizome, yaitu rajangan rimpang kencur yang telah dikeringkan di bawah sinar matahari tak langsung atau pemanas lain yang cocok, hingga kadar minyak atsiri tidak kurang dari 2,4%.2)
  • Kadar abu : tidak lebih dari 2,2%
  • Kadar sari yang larut dalam air : tidak kurang dari 14%
  • Kadar sari yang larut dalam alkohol : tidak kurang dari 4%
  • Bahan organik asing : tidak lebih dari 2%
Efek biologik
Etilester asam sinamat dan p-metoksi-sinamat bersifat toksis terhadap larva Spodophtera littoralis.6)
Toksisitas : Memiliki sifat halusinogenik.3)
Dosis : Untuk obat batuk 5 gram rimpang segar dikunyah mentah sampai halus dan lalu ditelan.

Kegunaan di masyarakat
Rimpang digunakan untuk bumbu masak, obat batuk dan nyeri dada.7,9)
Minyak atsiri dipakai untuk aromaticum, corrigen odoris ataupun sebagai odoransia.
Rimpangnya bersifat analgetikum, yakni bisa meredakan rasa sakit pada gigi, sakit kepala ataupun rematik. Juga merangsang keluarnya angin perut (carminativum), penghangat badan serta stimulansia. Rimpang yang dimaserasi dengan alkohol digunakan untuk mengurut kaki keseleo, oto kaki yang layu ataupun untuk mengencang-kan urat-urat/otot-otot.2)

Deskripsi
Perawakan:
Herba rendah, tegak, daun mendatar tanah. Rimpang: merayap, bercabang-cabang, membulat semacam umbi, akar berdaging berakhir dengan umbi bulat 1 - 1,5 cm, aromatik, luar coklat, dalam putih. Batang: batang semu dibentuk oleh pelepah daun.
Daun:
Tunggal, berjumlah 2, jarang 1 atau 3, mendatar tanah, elip lebar ataum membulat, pangkal membulat - agak menjantung, menyempit di atas tangkai, ujung meruncing pendek, permukaan gundul, bagian bawah berambut jala, tepi bergelombang dengan tepi merah muda atau merah-coklat, 7 - 15 cm x 2 - 8,5 cm, tangkai 3 - 8 mm, lidah pendek, putih, 1,5 - 3,5 cm. Bunga: susunan sepala, lebih dari 4 cm, 4 - 12 atau lebih bunga, daun pelindung 2 tempat, 3 - 3,5 cm. Kelopak: 3, ujung dengan 2 gigi, rata-rata 3 cm. Mahkota: 3 - putih, wangi, tabung 2,5 - 5 cm, lobus bentuk garis, berekor atau meruncing, 2,5 - 3 cm x 1,5 - 2,5 cm.
Benang sari:
Fertil 1, 2mm, anthena 4 mm, 5 menjadi staminodia, bentuk melebar, memanjang - bulat telur terbalik, tabellum (bibir) lebar, bulat telur terbalik lebar, lobus pada ½ bagian, lobus bulat atau bulat telur terbalik, bercak ungu di bagian atas tengah, lainnya putih atau ungu terang dengan bintik-bintik ungu. Putik: bakal buah 3 ruang, tangkai benang, kepala putik bentuk bel.1)

Asal-usul : Tidak jelas
Waktu berbunga : Nopember - Desember
Distribusi : Di Jawa pada elevasi bervariasi, di budidayakan.

Keanekaragaman
Variasi morfologi sempit, tetapi variasi kualitas di tentukan oleh beberapa faktor luar.

Sifat khas
Jumlah daun, bentuk daun, dan bentuk rimpang serta bau aromatik yang khas.  

Budidaya
Bibit yang ditanam adalah potongan-potongan rimpang yang bermata tunas dengan jarak tanam (40-60 cm) sampai (20 - 60 cm). Tumbuh baik pada tanah berpasir yang subur pada guludan dan bedengan yang gembur.
Perbanyakan tanaman dengan rimpang yang bermata tunas dengan jarak tanam (40-60 cm) x (20-60 cm).
Penggunaan pupuk kandang sangat dianjurkan pada sat pengolahan tanah, sehingga pemupukan N dan K diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan pembentukan rimpang serta umbi. Penyiangan gulma perlu dilakukan rutin secara periodik.5)

Pustaka
  1. Backer G.A., And RCB. Bakhuizen, 1965, Flora of Java., Vol.2., P. Noordhoff, Groningen.
  2. Didik Gunawan, Sri Mulyani, CJ. Sugihardjo., Kunsumardiyah, 1989, Empon-empon dan Tanaman Lain dalam Zingiberaceae., Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami (PERHIBA) Kom. Yogyakarta., IKIP Semarang Press., Semarang. P.38-40
  3. Duke, J.A., 1985, CRC-Handbook of Medicinal Herbs., CRC-Press Inc., Boca Raton., P.259
  4. Nadkarni A.K; 1954, Indian Materia Medica., 3rd Edition, Dhoota papeswar, Prakashan Ltd; p.217.
  5. Ika Sastrahidayat R; Soemarno D.S., 1991, Budidaya Tanaman Tropika, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya. P.133
  6. Pandji C; Grimm C; Wray V; Witte L; Proksch P; 1993. Insecticidal constituents from four species of the Zingiberaceae, Phytochemistry, p.415-419.
  7. van Steenis, M.J., 1953, Select Indonesian Medical Plants, Organi-zation for Scientific Research, p.50.
  8. Stecher P. G. (Editor), 1968, The Merck Index : an Encyclopedia of Chemicals and Drugs., Merck & Co, Inc. USA., p.161 & 198.
  9. Tjitrosoepomo G; 1994, Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan, Gadjah Mada University Press. p.433.

0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites