Bawang Putih (Allium sativum L.)

Kandungan kimia
Untuk kepentingan pengobatan, tanaman Allium sativum L. telah banyak dibudidayakan di berbagai negara. Senyawa karakteristik yang terkandung di dalamnya adalah turunan sicstein yang berkaitan erat dengan senyawa g-glutamil dipeptida.4) 
Bawang putih mengandung 0,2% minyak atsiri yang berwarna kuning kecoklatan, dengan komposisi utama adalah turunan asam amino yang mengandung sulfur (aliin, 0,2-1%, dihitung terhadap bobot segar). Pada proses destilasi atau pengirisan umbi, aliin berubah menjadi alisin.
Kandungan yang lain adalah alil sulfida dan alil propil disulfida, sejumlah kecil polisulfida, alil divinil sulfida, alil vinil sulfoksida, trans-Ajoen-2-vinil-[4H]-1,3-ditiin, metil-aliltrisulfida, cis-Ajoen, 3-vinil-[4H]-1,2-ditiin, Dialiltrisulfida, adenosin. Kadar Alliin sangat tergantung dari penyiapan simplisia (pada cara penyiapan simplisia yang kurang baik, maka 1/4 bagian aliin akan mengalami perubahan).5) Bobot jenis minyak atsiri bawang putih berkisar antara 1,046-1,057. alisin adalah senyawa yang memberikan bau khas bawang putih. Bawang putih juga mengandung saponin, tuberholosida, dan senyawa fosforus (0,41%). 1,13,15)


Senyawa lain yang terkandung di dalam bawang putih adalah alistatin I, alistatin II, garlisin, alil-2-propen-1-tisulfinat dan alkil-tisulfinat.15)
Aliin atau S-Alil-L-sistein sulfoksida C6H11NO2S, selain terkandung dalam bawang putih juga terkandung dalam bawang merah (Allium cepa L.) dan jenis-jenis Allium lainnya. Senyawa ini berupa hemihidrat yang tidak berwarna C6H11NO2S. ½H2O bentuk jarum tumpul yang diperoleh dari hasil rekristalisasi mengguna-kan pelarut aseton. Jarak leburnya 164-1660C (dengan mengeluarkan gas), praktis larut dalam air. Tidak larut dalam etanol mutlak, kloroform, aseton, eter dan benzena. Aliin memiliki dua pusat asimetrik, hingga secara teoritis memiliki empat isomer, dua diantaranya diturunkan dari L-Sistein dan D-Sistein alami. Keempat isomer tersebut seluruhnya telah dapat disintesis, dan salah satu yang identik dengan aliin alami adalah (-)-S-alil-L-sistein sulfoksida.15) Senyawa ini memiliki potensi sebagai antibakteri.13)

Pemberian perlakuan enzim alinase atau juga disebut aliinase (yaitu enzim yang sangat spesifik terhadap aliin), akan segera memecah aliin menjadi alisin, asam piruvat dan amonia. Sebenarnya alisin bebas inilah yang berdaya sebagai anti bakteri.15)
Alisin C6H10OS2 memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Alisin ini juga terkandung dalam bawang merah. Berbentuk cairan dengan bau yang khas bawang putih. Bersifat mengiritasi kulit, bila direbus atau disuling akan mengalami dekomposisi. Indeks biasnya 1,561 (20oC), bobot jenis 1,113 (20oC). Kelarutan dalam air 2,5% w/w (10oC). pH sekitar 6,5. Dapat campur dengan alkohol, eter, dan benzena. Alisin merupakan senyawa yang tidak stabil, adanya pengaruh panas air, oksigen udara dan lingkungan basa, Alisin akan berubah menjadi senyawa polisulfida, dialildisulfida (yang menimbulkan bau tidak enak). Alisin stabil dalam lingkungan asam. 13)
Kedua struktur paling bawah ditemukan oleh Eckner dkk. (1993) sebagai senyawa asam amino baru. Sebelah kiri (-)-N-(1'--D-frictpurampsil)-S-alil-L-sistein sulfok-sida merupakan glikosida asam amino, sementara struktur 1,2, dan 3 di sebelah kanan adalah asam amino.4)
Analisis Kandungan Gizi
Dari 100 gram umbi Allium sativum L. mengandung:
Kandungan
Jumlah
Air
Kalori
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
β-Carotene
Tiamin (Vit B1)
Riboflavin (Vit B2)
Niasin
Asam askorbat  (Vit C)
Kalsium
Kalium
Natrium
Zat besi
Fosfor (sbg P2O5)
     61-68 %
               122 kal
              3,5-7 %
                 0,3 %
             24-28 %
                 0,7 %
    Sangat sedikit
               Sedikit
               Sedikit
               Sedikit
               Sedikit
28,00 mg
          377,00 mg
            16,00 mg
              1,50 mg
          109,00 mg

Efek biologik
Air perasan bawang putih bersifat meningkatkan methemoglobin dalam darah, dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. 8,15)
Sari etil eter dari serbuk bawang putih yang telah dikeringkan memiliki aktivitas mengendalikan kadar gula darah pada kelinci puasa yang diberi perlakuan glukosa. Bawang putih segar juga memiliki aktivitas penurunan kadar gula darah pada kelinci yang dibuat diabetes dengan aloksan. Penelitian tersebut juga dilakukan terhadap Alisin (kandungan aktif bawang putih), ternyata juga memberikan hasil yang sama.1)
Juice bawang putih juga dilaporkan dapat berpengaruh dalam pengendalian kadar gula darah pada kelinci yang diberi glukosa berlebihan dan memacu mobilitas kolesterol.
Alisin dilaporkan terbukti memiliki potensi sebagai anti bakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif, Mycobacterium tuberculosis serta terhadap Staphylococcus aureus dan Brucella abortus. Terhadap S.aureus potensinya adalah satu miligram alisin setara dengan 15 Oxford penicillin units. Pertumbuhan bakteri-bakteri lain yang juga terhambat oleh alisin maupun aliin adalah Staphylococci, Streptococci, Eberthella typhosa, Bacillus paratyphoid A, Bacterium dysenteriae, Bacterium enteridis, Vibrio cholerae dan beberapa bakteri tahan asam.6,8,9,15)
Alisin dilaporkan memiliki aktivitas menghambat enzim sulfidril (-SH), suatu reaksi yang diketahui berperan dalam penghambatan pertumbuhan sel-sel ganas.15)
Perubahan bentuk produk (+)-S-alil-L-sistein sulfoksida, alisin, ajoene, dan Dialil disulfida menunjukkan aktivitas in vitro dalam hal penghambatan secara bermakna terjadinya penggumpalan trombosit (IC50 terhitung = 60 M).4) Dan dalam berbagai percobaan klinis telah dibuktikan, bahwa serbuk bawang putih mampu menurunkan secara bermakna kadar trigliserida, kolesterol dan fosfolipid dalam plasma, serta mampu pula menurunkan secara bermakna terbentuknya penggumpalan trombosit spontan dan juga kekentalan plasma.4)
Bawang putih terbukti memiliki efek ekbolik (mempercepat kelahiran) pada tikus putih dan mencit dan memiliki aktivitas estrogenik pada tikus putih betina. Setelah 4 hari dilakukan penyuntikan sari alkohol secara intramuskuler terhadap binatang percobaan, akan dikeluarkan metabolitnya yang berupa 17-ketosteroid, hal ini menunjukkan adanya efek kortikotropik pada korteks adrenal binatang tersebut. Selain itu juga dilaporkan memiliki aksi sebagai antelmintik, antiseptik dan anti asma.1,8,15)  
Aksi Anthelmintic terutama terhadap cacing Ascaris dan Oxyuris. Terhadap cacing Ascaris lumbricoides menyebabkan terjadinya paralisis.15)
Ekstrak bawang putih dilaporkan memiliki efek fibronolitik, meningkatkan mobilitas kholesterol dan trigliserida. Disamping itu dapat pula berefek sebagai anti asma. Potensi anti asma tersebut adalah karena adanya ester asam tiosulfinat yaitu dengan menghambat proses timbulnya asma (menekan pengaruh alergen).11,14)

Alil-2-propen-1-tiosulfinat dan Alkil-tiosulfinat juga memiliki aktivitas terhadap infeksi dermatophytic, baik terhadap infeksi jamur maupun infeksi bakteri Gram positif dan negatif pada kulit. Sedang kandungan yang lain Garlisin, Alistatin I dan Alistati II memiliki aktivitas antibiotik dengan potensi 1:50.000.13)
Tablet Alisatin (Sandoz) yang berisi sari bawang putih diindikasikan untuk anti kejang pada perut, sementara sediaan tablet yang lain Alimin (van Patten & Co) yang berisi konsentrat bawang putih yang tidak mengandung air, diindikasikan untuk vasodilator bagi penderita tekanan darah tinggi.6) 
Di Indonesia telah dipasarkan beberapa kapsul lunak yang berisi minyak bawang putih, untuk menurunkan kolesterol dan obat tekanan darah tinggi.

Efek yang tidak diinginkan
Tidak semua orang memiliki toleransi terha-dap penggunaan bawang segar dosis besar, karena sifat iritasinya pada mulut, oesophagus dan lambung.
Penggunaan bentuk serbuk dengan dosis relatif besar dapat menimbulkan rasa mual, disamping itu keringat dan nafasnya akan berbau tak sedap (bau badan atau bau mulut campur dengan bau bawang, dikarenakan adanya metabolit aliin, dialildi-sulfida, dialiltrisulfida dan oligosulfida).5,6)

Toksisitas
Bawang putih yang sudah bertunas tidak baik untuk dikonsumsi, karena pada tunasnya tersebut mengandung racun HCN.15)

Dosis
  • Dalam bentuk minyak 0,12 - 0,2 ml.
  • Dalam bentuk juice yang dicampur dengan sirup 4- 8 ml.
Kegunaan di masyarakat
Umbi bawang putih berkhasiat sebagai obat tekanan darah tinggi, meredakan rasa pening di kepala, menurunkan kolesterol, dan obat maag.12) Di samping itu digunakan pula sebagai ekspektoransia (pada bronkhitis kronis), karminativa (pada keadaan dispepsia dan meteorismus.5)

Cara pemakaian di masyarakat
Mengobati tekanan darah tinggi
Bawang putih 2 butir dikupas kulitnya, dikunyah halus lalu ditelan, disusul minum air masak yang hangat (3 x sehari).7)
Mengobati batuk
Bawang putih 2 butir, kulit dibuang, dikunyah halus-halus lalu ditelan dan disusul minum air hangat (2 x sehari).7)
Mengobati asma
Bawang putih 10 butir, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air bersih 2 gelas minum hingga hanya tinggal kira-kira ¾nya, sesudah dingin disaring lalu diminum dengan madu 1 sendok makan (3 x sehari ½ gelas).7)

Deskripsi
Suku : LiliaceaePerawakan:
herba annual (2-4 bulan), tegak, 30 - 60 cm.
Batang : kecil (corpus), 0.5 - 1 cm.
Daun : bangun garis, kompak, datar, lebar 0.4 - 1.2 cm, pangkal pelepah membentuk umbi, bulat telur melebar, anak umbi ....., Bersudut, di bungkus oleh selaput putih, pelepah bagian atas membentuk batang semu.
Bunga : susunan majemuk payung sederhana, muncul di setiap anak umbi, 1-3 daun pelindung, seperti selaput. 
Tenda bunga (perhiasan) : 6 daun, bebas atau berlekatan di pangkal, bentuk memanjang, meruncing, putih-putih kehijauan-ungu.3)

Asal - usul : Asia daratan

Daerah distribusi
Di Jawa di budidaya di dataran tinggi 1000 - 200 m dpl.

Keanekaragaman
Variasi morfologi kecil (sempit), hanya terjadi pada ukuran organ.
Ada beberapa varietas bawang putih yang tumbuh di Indonesia, antara lain varietas unggul Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Ilocos, Gombloh, Layur dan lain-lain.

Sifat khas
Daun 8 - 10 helai, pelepah membungkus membentuk batang semu, pangkal mem-bungkus anak-anak umbi lapis, di setiap anak umbi memiliki tunas vegetatif.3)

Budidaya
Yang digunakan sebagai bibit bukan seluruh umbinya, namun hanya siungnya saja. Menjelang ditanam, sekitar 1-2 hari, umbi dijemur beberapa jam, lalu dipecah-pecah menjadi siung, usahakan agar kulit siung tidak ikut terkelupas, kemudian dipilah-pilah berdasar atas keseragaman ukuran siung. Bagian ujung kulit siung umumnya mengering dan menutupi lubang tempat lewatnya tunas pertama, maka untuk mempercepat dan mempermudah keluarnya tunas pertama perlu daerah tersebut disayat sekitar 1/8 - 1/5 bagian.
Tanah yang dipersiapkan adalah dalam ben-tuk bedeng berparit yang telah digemburkan, serta telah diolah dengan pemberian pupuk dasar dan pengapuran (bagi lahan yang terlalu asam). Jarak tanam bisa 10 x 10 cm sampai 15 x 10 cm tergantung luas lahan, semakin jarang semakin baik, tetapi menurut pengalaman, dengan jarak tanam 15 x 15 cm ternyata tidak menghasilkan panen yang lebih baik dibanding 15 x 10 cm.
Bibit-bibit yang pertama kali ditanam perlu ditaburkan tanah halus di atasnya dan lalu bedeng dinaungi dengan jerami kira-kira setebal 3 cm. Jagalah kelembaban jerami dengan cara menyiram air sekedarnya (jangan terlalu basah, asal lembab sudah cukup).
Pemeliharaan selanjutnya sama dengan yang dilakukan pada bawang merah, meliputi pengairan, penyiangan, penggemburan tanah, pemupukan, pencegahan dan pemberantasan hama-penyakit. Juga kadang-kadang (apabila dianggap perlu) perlu dilakukan penjarangan tanaman.10)


Pustaka
  1. Atal CK., & BM. Kapur, 1982, Cultivation and Utilization of Medicinal Plants., Regiolan Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research., Jammu-Tawi., India., P.744.
  2. Atal CK., & BM. Kapur, 1982, Cultivation and Utilization of Medicinal Plants., Regiolan Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research., Jammu-Tawi., India., P.561.
  3. Backer, C.A., and Bakhuizen, R.C.B., 1968 Flora of Java, vol. II & III, P.Noordhoff, Groningen.
  4. Eckner MM., CAJ. Erdelmeier O. Sticher, and H.D. Reuter, 1993, " A Nover Amino Acid Glycoside and Three Amino Acids from Allium sativum L."., J. Nat. prod., Vol. 56., No. 6., p. 864-869.
  5. Hänsel R; 1991Phytopharmaka (Grundlagen und. Praxis); 2.Aufl; Spinger Verlag, Berlin p.192-198.
  6. Lucas R., 1987, Secret of the Chinese Herbalist., Revised Edition., Parker Publishing Company Inc., New York., P.216-218.
  7. Mardisiswojo, S.,& Rajakmangunsudarso, H., 1987., Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang., Balai Pustaka, Jakarta.8. Osol A., & Farrar GE., 1955, The Dispensatory of The United States of America., 25th Ed., J.B. Lippingcott Co., Philadelphia., USA., P.1538.
  8. Perry L.M., 1980, Medicinal Plants of East and Southeast Asia : Attributed, Properties, and Uses., The MIT Press., Massachusetts., P.232.
  9. Singgih Wibowo, 1994, Budidaya Bawang : Bawang Putih, Bawang Merah, Bawang Bombay., Panebar Swadaya., Jakarta., p. 1-84
  10. .Schneider, G; 1985, Pharmazeutische Biologie 2. Aufl. BI-Wissenschaftsverlag Mannheim, p.383-385.
  11. Sri Sugati, 1991 Sugati S., Johny Ria Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia., Jilid I., Balitbang Kesehatan., DepKes RI. Jakarta, p.26-27.
  12. Stecher P.G. (Editor), 1968, The Merck Index: an Encyclopedia of Chemicals and Drugs., Merck & Co. Inc. USA., p. 31-32,472
  13. Wagner. H.S. Bladt, EM. Zgainski, 1984. Plant Drugs Analysis,:A Thin Layer Chromatography Atlas., Springer-Verlag.,Berlin., P.255-256.
  14. Watt J.M., & M.G. Breyer-BrandWijk, 1962, The Medicinal and Poisonous Plants of Southern and Eastern Africa., 2nd Ed., E.S. Livingstone Ltd. London., P.674-679.

3 comments:

makasih informasinya sangat membantu tugas ku

oh jadi gitu ya caranya?
makasih atas infonya

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites