Bawang Merah (Allium cepa L.)

Kandungan kimia 
Bawang merah mengandung minyak atsiri yang ter-diri atas dialilsulfida, propantiol-S-oksida, S-Alil-L-Sistein-sulfoksida atau Aliin, prostaglandin A-1, difenilamina dan sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, kaemferol dan foroglusinol.5)

Umbi bawang merah mengandung senyawa turunan asam amino yang mengandung sulfur yaitu Sikloalliin 2%, propilalliin dan propenilalliin. Bila sel-sel umbi pecah senyawa tersebut akan berubah menjadi bentuk ester ( ester asam tiosulfinat), sulfinil disulfida (Kepaen), disulfida dan polisulfida, begitu juga tiofen. Di samping itu terbentuk pula propantial-S-oksida (suatu senyawa yang dapat menyebabkan keluarnya air mata). 
Disamping turunan asam amino, ditemukan pula adenosine dan prostaglandin.8,11) 

Aliin (S-Allil-L-sistein sulfoksida), C6H11NO2S selain terkandung dalam Bawang Merah juga terkandung dalam Bawang putih (Allium sativum L.) dan jenis-jenis Allium lainnya. Senyawa ini berupa hemihidrat yang tidak berwarna C6H11NO2S.½H2O bentuk jarum tumpul yang diperoleh dari hasil rekristalisasi menggunakan pelarut aseton. Jarak leburnya 164-1660C (dengan mengeluarkan gas), praktis larut dalam air. Tidak larut dalam etanol mutlak, kloroform, aseton, eter dan benzena.
Senyawa ini memiliki potensi sebagai antibakteri dan segera akan terurai oleh pengaruh enzim Allinase dengan mengeluarkan bau bawang yang khas. Potensi antibakterinya kira-kira serupa dengan Allicin.10)
Allisin C6H11NO2S adalah senyawa yang juga terkandung dalam Bawang Putih memiliki potensi antibakteri. Senyawa ini bentuknya cairan dengan bau yang khas bawang putih. Bersifat mengiritasi kulit, bila direbus atau disuling akan mengalami dekomposisi. Indeks biasnya 1,561 (20oC), bobot jenis 1,112 (20oC). Kelarutan dalam air 2,5% w/w (suhu 10oC). pH sekitar 6,5. Dapat campur dengan alkohol, eter, dan benzena, tidak stabil terhadap pengaruh panas dan dalam lingkungan biasa. Stabil dalam lingkungan asam.10)



Analisis Kandungan Gizi
Dari 100 gram umbi Allium cepa L. dilaporkan mengandung :5,9)
Efek biologi Dari penelitian yang sudah banyak dilakukan diketahui bahwa bawang merah mempunyai efek antidiabetik dan anti aterosklerotik yaitu menurunkan kadar gula dan lemak darah, menghambat aggregasi trombosit, meningkatkan aktivitas fibrinolitik serta memobilisir kolesterol dari depositnya pada lesi aterosklerosis hewan uji. Efek hipoglikemik dan hipolipidemik bawang merah telah dibuktikan pula pada pasien dengan diabetes melitus yang terawat baik dengan kombinasi obat anti diabetik oral dan bawang merah 3 kali 20 gram setiap hari selama 7 hari dibandingkan dengan tanpa kombinasi dengan bawang merah selama 7 hari. Penurunan kadar gula darah penderita yang mendapat bawang merah sebesar 10,72 mg%.6)  
Komponen yang diduga mempunyai efek hipoglikemik ialah senyawa amino (difenilamin) dan senyawa yang berupa sulfida (allilpropil-disulfida).
Umbi bawang merah memiliki efek ekbolik (memacu kelahiran janin) pada tikus putih dan mencit dan pada dosis besar cenderung bersifat sebagai abortivum pada binatang percobaan tersebut.2)  
Ekstrak Bawang dapur (bawang bombay) berefek seperti ekstrak bawang putih, yaitu sebagai fibrinolitik, menurunkan kholesterol dan trigliserida. Disamping itu dapat pula berefek sebagai antiasma. Potensi antiasma tersebut disebabkan dari ester asam tisulfiniat yaitu dengan menghambat proses timbulnya asma (menekan pengaruh alergen), sedangkan pada penurunan timbulnya trombus disebabkan karena menghambat terjadinya penggumpalan trombosit spontan.9,12)  
Pada penggunaan per-oral perasan Allium cepa dapat menurunkan kadar gula darah binatang percobaan maupun sukarelawan.
Fraksi petroleum eter dari ekstrak dietil eter "yellow and red cultivar" berturut-turut dapat menurunkan kadar gula darah sebesar 34,8% dan 50,33% (Produk Sintetik golongan Difenilamin dapat menurunkan 24,95%), sedangkan fraksi ekstrak kloroform "yellow and red cultivar" (menghasilkan penurunan kadar gula darah sebesar 21,71% dan 33,47%).4,7) 
Pada pengenceran allisin 1:100.000 masih mempunyai aktivitas menghambat pertumbuhan mikroba Gram(+) dan Gram(-) (1 mg allicin setara dengan 10 g penisillin).11)

Kegunaan di masyarakat
Secara tradisional umbi lapis bawang merah digunakan untuk peluruh dahak (obat batuk), obat kencing manis, memacu enzim pencernaan, peluruh haid, peluruh air seni dan penurun panas. 1)
Seperti halnya bawang putih, digunakan dalam upa-ya penyembuhan gangguan pencernaan, demam, dan aterosklerosis.11)

Cara pemakaian di masyarakat

Untuk mengobati influenza :
Bawang merah 2 butir, daun kaki-kuda 9 lembar, daun meniran 10 lembar, rimpang caekur 2 jari, temu lawak 1 jari, gula-enau 3 jari, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air bersih 3 gelas sehingga hanya tinggal kira-kira 3/4nya, sesudah dingin disaring lalu diminum (3 x sehari sebanyak yang diperlukan)

Untuk mengobati sariawan :
Bawang merah 3 butir, belimbing buluh 3 buah, buah pala yang masih muda 1 buah, daun sariawan 10 lembar adas 3/4 sendok the, pulosari 3/4 jari, dicuci lalu ditumbuk halus-halus, diramas dengan minyak …..3 sendok makan, diperas dan disaring, untuk melumas luka-luka yang disebabkan oleh penyakit sariawan (3-6 x sehari).

Untuk mengobati batuk :
Bawang merah 8 butir, buah kapulogo 3 buah, kelengkeng 3 buah, daun kaki kuda 1/3 genggam, daun jintan 1/4 genggam, rimpang cekur 2 jari, rimpang halia 1 jari, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air bersih 3 gelas sehingga hanya tinggal kira-kira 1/2nya, sesudah disaring lalu diberi madu murni 4 sendok makan dan diminum (3 x sehari 1/2 gelas).

Untuk mengobati masuk angin:
Bawang merah 8 butir, dicuci dan ditumbuk halus-halus, diramas dengan air kapur sirih seperlunya untuk menggosok tulang punggung, tengkuk, perut dan kaki (1-2 x sehari masing-masing sebanyak yang diperlukan).

Deskripsi
Suku : Amaryllidaceae
Sinonim : Allium cepa var. Ascalonicum


Perawakan: herba annual (2-3 bulan), tinggi 0,2 - 0,5 m.
Batang: kecil, 0,5 - 1 cm.
Daun: Tunggal lebih pendek dari tangkai karangan bunga, roset akar, pelepah pangkalnya membentuk umbi lapis, di bawah tanah, helaian daun bentuk silindris-berongga (tistular) 0,3 - 0,4 m, berlilin, putih, urat daun sejajar, 14 - 19 buah, pelepah diatas umbi membentuk batang semu. Umbi lapis bulat telur, bulat, bulat pipih, putih, coklat kekuningan, merah atau ungu kemerahan.
Bunga: susunan majemuk payung, sederhana, 1-3 daun pelindung (spathe), seperti selaput. Tangkai bunga: rata-rata 3 kali panjang perhiasan, sering lebih. Tenda bunga (perhiasan): 6 daun tenda bunga , bebas, bentuk bulat telur - bulat memanjang, tumpul, dengan garis median hijau - putih kehijauan atau ungu, 0.4 - 0.6 cm.
Benang sari: 6, tertancap di pangkal perhiasan, tangkai sari berbentuk paku dengan pangkal melebar, 3 lingkaran dalam pangkal sangat melebar, kepala sari agak tergoyang. 
Putik: bakal buah menumpang, duduk, 3 ruang, per-ruang 2 biji, tangkai putik seperti rambut, kepala putik 3 bagian. Buah: tiga bagian (lobus), 3 sekat.
Biji : hitam.

Asal -usul : Asia bagian barat
Waktu berbunga : Januari, April, Agustus, Oktober


Daerah distribusi, Habitat dan Budidaya
Di Jawa di tanam pada elevasi 1000 - 1800 m dpl. Tetapi banyak budidaya di dataran rendah (5 - 100 m dpl.) Bawang merah termasuk jenis tanaman yang tidak menyukai air hujan, tidak suka tempat-tempat yang airnya menggenang dan becek, tetapi pada pertumbuhannya, tumbuhan ini membutuhkan banyak air, terutama pada masa pembentukan umbi dan perlu lingkungan yang beriklim kering, suhu yang hangat. Karenanya tanaman ini paling cocok ditanam di musim kemarau dengan sistem pengairan yang memadai.
Bibit yang lazim dipakai adalah dari umbi. Dipilih umbi yang berasal dari tanaman yang sehat, subur dan cukup tua (umur 2,5-3 bulan). Umbi yang terpilih tidak boleh langsung ditanam, perlu disimpan beberapa waktu (minimal 2 bulan dengan penyimpanan yang baik). Untuk menandai bahwa umbi bibit sudah siap tanam, maka di ujung-ujungnya sudah mulai terlihat warna hijau dari bakal pertumbuhan tunas. Sebelum ditanam, hilangkan dulu bagian kulit terluar dari umbi bibit, juga sisa-sisa akarnya yang masih ada, kemudian kira-kira seperempat bagian ujung dari umbi disayat dengan pisau (tetapi bila tunasnya sudah menyembul keluar, tidak perlu dilakukan penyayatan umbi). Lalu ditunggu beberapa saat hingga bekas sayatan mengering, baru ditanam. Bibit ditanam di tanah gembur yang sudah dipersiapkan (dalam bentuk bedeng-bedeng berparit) dalam jarak 15x20 cm.

Hal-hal yang perlu dilakukan secara periodik selama pemeliharaan tanaman adalah:
1. Pengapuran tanah: Ini untuk menjaga keasaman tanah (pH tanah dijaga sekitar 6,0 - 7,0).
2. Penyiangan dan penggemburan tanah.
3. Pemupukan: paling baik digunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk kandang, kompos.
4. Pemberantasan gulma, hama dan penyakit
5. Pemberian stimulan (misalnya Atonik, Metalik, atau Gandasil, Vitabloom dan sebagainya).9)


Keanekaragaman
Variasi morfologi sangat besar terutama pada ukuran daun, ketebalan daun, warna kulit umbsari agak tergoyang. Putik: bakal buah menumpang, duduk, 3 ruang, per-ruang 2 biji, tangkai putik seperti rambut, kepala putik 3 bagian. Buah: tiga bagian (lobus), 3 sekat. Biji: hitam.
Bibit yang lazim dipakai adalah dari umbi. Dipilih umbi yang berasal dari tanaman yang sehat, subur dan cukup tua (umur 2,5-3 bulan). Umbi yang terpilih tidak boleh langsung ditanam, perlu disimpan beberapa waktu (minimal 2 bulan dengan penyimpanan yang baik). Untuk menandai bahwa umbi bibit sudah siap tanam, maka di ujung-ujungnya sudah mulai terlihat warna hijau dari bakal pertumbuhan tunas. Sebelum ditanam, hilangkan dulu bagian kulit terluar dari umbi bibit, juga sisa-sisa akarnya yang masih ada, kemudian kira-kira seperempat bagian ujung dari umbi disayat dengan pisau (tetapi bila tunasnya sudah menyembul keluar, tidak perlu dilakukan penyayatan umbi). Lalu ditunggu beberapa saat hingga bekas sayatan mengering, baru ditanam. Bibit ditanam di tanah gembur yang sudah dipersiapkan (dalam bentuk bedeng-i lapis, dan rasa. Di Indonesia yang tumbuh adalah bentuk kultivar, yakni hasil persilangan yang terjadi secara alami sewaktu tanaman masih di lapangan dan umumnya memiliki sifat-sifat yang belum mantap atau seragam.

Berdasar warna umbi, maka bawang merah dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
A. kelompok yang umbinya merah tua, seperti kultivar Medan, Sri Sakate, Maja dan Gurgur.
B. kelompok yang umbinya kuning muda pucat, seperti kultivar Sumenep.
C. Kelompok yang umbinya kuning kemerahan, seperti kultivar Lampung, Bima, Ampenan dan sebagainya.9)


Budidaya
Bawang merah termasuk jenis tanaman yang tidak menyukai air hujan, tidak suka tempat-tempat yang airnya menggenang dan becek, tetapi pada pertumbuhannya, ia membutuhkan banyak air, terutama pada masa pembentukan umbi dan perlu lingkungan yang beriklim kering, suhu yang hangat. Karenanya tanaman ini paling cocok ditanam dimusim kemarau dengan sistem pengairan yang memadai. Bibit yang lazim dipakai adalah dari umbi. Dipilih umbi yang berasal dari tanaman yang sehat, subur dan cukup tua (umur 2,5-3 bulan). Umbi yang terpilih tidak boleh langsung ditanam, perlu disimpan beberapa waktu (minimal 2 bulan dengan penyimpanan yang baik). Untuk menandai bahwa umbi bibit sudah siap tanam, maka di ujung -ujungnya sudah mulai terlihat warna hijau dari bakal pertumbuhan tunas. Sebelum ditanam, hilangkan dulu bagian kulit terluar dari umbi bibit, juga sisa-sisa akarnya yang masih ada, kemudian kira-kira 1/4 bagian ujung dari umbi disyat dengan pisau (tetapi bila tunasnya sudah menyembul keluar, tidak perlu dilakukan penyayatan umbi). Lalu ditunggu beberapa saat hingga bekas sayatan mengering, baru ditanam. Bibit ditanam di tanah gembur yang sudah dipersiapkan (dalam bentuk bedeng-bedeng berparit) dalam jarak 15 X 20 cm. Yang perlu dilakukan secara periodik selama pemeliharaan tanaman adalah:

  1. pengapuran tanah: Ini untuk menjaga keasaman tanah (pH tanah dijaga sekitar 6,0 - 7,0).
  2. penyiangan dan penggemburan tanah.
  3. pemupukan: paling baik digunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk kandang, kompos.
  4. pemberantasan gulma, hama dan penyakit.
  5. Pemberian stimulan (misalnya Atonik, Metalik atau Gandasil, Vitabloom dan sebagainya).9)
Pustaka
  1. Anonim,  1985,  Materia  Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, p.15-19.
  2. Atal, CK.,  &  BM,  Kapur.,  1982, Cultivation  and Utilization of  Medicinal Plants, Regiolan Research Laboratory., Council of Scientific & Industrial Research, Jammu-Tawi, India, p.561.
  3. Backer, C.A. and Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff, Groningen.
  4. Karawya,  M.S., and  Wahab,  S.M., 1984, "Diphenylamine, an antihyperglycemic agent from onion an tea", J.Na. prod, p. 775
  5. Paris, R.R., Moyse M.H., 1981, Matiere Medicale Tome II, Masson, Paris, p. 61-63
  6. Pikir, B.S., 1981, "Pengaruh brambang terhadap kadar gula dan lemak darah pada penderita diabetes melitus"., Laporan Penelitian, Universitas Airlangga, Surabaya.
  7. Salveron,  M. J., Cantoria, M.C., 1989, "Studies on the Extracts of two Phillippine - Grown Cultivars of Allium cepa", Planta  Med, 55, p. 662
  8. Schneider, G., 1985, Pharmazeutische Biologie 2. Aufl. BI-Wissenschaftsverlag Mannheim, p.383-385.
  9. Singgih, W., 1994,  Budidaya Bawang : Bawang Putih, Bawang Merah, Bawang Bombay, Panebar Swadaya, Jakarta, p. 85-135.
  10. Stecher P.G., (Editor), 1968, The Merck Index: an Encyclopedia of Chemicals and Drugs, Merck & Co. Inc. USA., p. 31-32.
  11. Wagner. H.,  1993. Plant Drugs Analisys,  Springer Verlag, Berlin, p. 110-111.

0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites