Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.)

Suku : Euphorbiaceae

Kandungan kimia
Mengandung 2% xantorhamnin. Getahnya mengandung euforbon (zat yang menyebab-kan gatal-gatal pada kulit, bagi yang tidak tahan). Herba kering mengandung asam galat, quersetin, triakontan, fitosterol, fitosterolin, jambulol, melisat, gallat, palmitat, linoliat, asam oleat, asam ellagat, senyawa fenolik C28H18O15 dan eufosteriol C25H39OH. Juga dilaporkan mengandung tarakserol t.l. 275-2770C dan tarakseron t.l. 237-2380C.8,12)

Xantorhamnin (7-metilquersetin-3-rhamni-nosida C34H42O20) adalah kristal kuning t.l 1950C, larut dalam air dan alkohol, praktis tidak larut dalam eter, benzena, karbon disulfida. Ketika dipanaskan dalam larutan asam sulfat 1% selama 0,5 jam akan terurai menjadi aglikon rhamnetin dan 2 mol. L-rhamnose. Namun bila dihidrolisis dengan enzim rhamnodiastase akan terurai menjadi rhamnetin dan rhamninose. (Cat.: senyawa ini juga terkandung dalam tanaman Rhamnus infectoria L.)
Pada jenis lain (Euphorbia peplus) ditemukan b-Sitosterol 0,1%, senyawa sterol (belum teridentifisir, 0,005% dengan jarak lebur 204-2050C), triterpenoid (belum teridentifisir 0,05%, dengan jarak lebur 280-2810C) quercetin 0,16% hyperoside 0,23% kaemferol monosakarida 0,36%.5)


Akar Euphorbia calyptrata ditemukan: eufol (triterpenoid), kadusifolin (diterpen laktonej), ingenol-3-heksadekanoat (diterpen), helioskopinolidas D dan E, helioskopinolidas A dan C.9) Pada jenis lain (Euphorbia sieboldiana) ditemukan golongan senyawa diterpen entatisan-3,16, 17-triol, helioskopinolida A (3-O-asetil-ent-atisan-16, 17-diol), ingenol-20-palmitat.3).

Kegunaan di Masyarakat
Rebusan (dekok) tanaman ini biasanya digunakan untuk pengobatan gangguan pernapasan menahun (asma) dan gangguan penglihatan. Juga digunakan untuk obat batuk dan sariawan. Di Nigeria digunakan pada penyembuhan luka, untuk pengobatan yang disebabkan karena mikrobia antara lain gonorhhoea, disentri.1,11)


Cara pemakaian di masyarakat
Mengobati Influenza
Daun patikan kebo ½ genggam dicuci lalu direbus dengan air bersih 3 gelas sehingga hanya tinggal kira-kira ¾ nya, sesudah dingin disaring lalu diminum dengan madu seperlunya (2 x sehari masing-masing ¾ gelas).7)

Mengobati Bronchitis
Daun patikan kebo 1/3 genggam, dicuci bersih lalu digiling halus-halus, diberi air masak ¾ cangkir dan madu 1 sendok makan, diperas dan disaring lalu diminum (2 x sehari).7)

Efek biologik
Ekstrak air Euphorbia hirta L. yang telah dibebaskan dari senyawa lipofilik mem-punyai efek analgetik pada susunan syaraf pusat dan mempunyai efek sedatif (dengan takaran 100 dan 400 mg/kg). Di samping itu ekstrak air bebas senyawa lipofil mempunyai efek pula sebagai penurun panas, yang diakibatkan karena yeast (dengan takaran 100 dan 400 mg/kg). Pada takaran 20-25 mg/kg secara intra peritoneal dan berefek antiradang yang ditimbulkan karena carrageenan dengan takaran 100 mg/kg.6)


Ekstrak air bebas senyawa lipofil mempunyai potensi terhadap Entamorba histolytica dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif (Staphyllococcus aureus, S.faecalis, S.dysentriae, Salmonella typhi, Pseudo-monas aeruginosa, Entamuba). Ekstrak batang mempunyai potensi lebih besar dari pada ekstrak bagian lain terhadap bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif.1)

Toksisitas
Herba yang berasal dari tanaman yang tumbuh di daerah tertentu dilaporkan ada yang mengandung racun sianida (HCN).8,12)


Dosis
Untuk obat batuk dipakai 20 gram daun segar direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit (dihitung setelah mulai mendidih). Hasil rebusan disaring dan diminum sehari dua kali masing-masing setengah gelas.10)

Deskripsi

Perawakan: Herba setahun (2-4 bulan), tegak atau tegak ujung rebah, 0,06 - 0,6 m, bergetah susu (putih). Batang: Penampang bulat, buku membengkak, bergetah putih, ujung batang berambut, stipula bentuk paku. Daun: tunggal berhadapan, bentuk bulat memanjang, runcing atau tumpul, dengan bercak ungu, berambut tersebar, permukaan bawah berambut panjang, 0.,5 - 5 cm x 1 - 1,5 cm, tangkai 2 - 4 mm. Bunga: diketiak daun, cyanthium dalam susunan cymes dari 1 - 2 pada tangkai 4 - 15 mm, bentuk kepala, involukurm dengan rambut 0,75 - 1 cm. Tangkai bunga gundul. Benang sari: 5 gerombol, dalam susunan tangga seling, putih kekuningan. Putik: Bakal buah berambut. Biji: kecil, coklat.2)


Asal-usul  : Benua Amerika
Waktu berbunga : Januari - Desember


Distribusi :
Di Jawa pada elevasi 1 - 1400 m.dpl., Padang rumput, tepi jalan, bendungan, ladang, tanaman.

Keanekaragaman
Ditemukan E. hirta L. Var glabra Steen., Di tahun 1921, di pulau Edan, merupakan populasi yang tubuhnya gundul.

Sifat khas
Getah putih, daun bercak coklat, bunga susunan cyanthium tegak.

Pustaka
  1. Ajao A.O; Emele F; Femi-Onadeko B; 1985, "Antibacterial Activity of Euphorbia hirta"., Fitoterapia. Vol LVI, No.3, p.165-171.
  2. Backer, C.A., & Bakhuizen, R.C.B., 1968, Flora of Java, Vol II & III, P.Noordhoff, Groningen.
  3. Heyne, K.,1987, Tumbuhan Berguna Indonesia., Jilid I (terjemahan)., Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta., p. 349-350.
  4. Jia Z., Ding Y., 1991,"New diterpenoids from Euphorbia sieboldiana"., Planta Med., Vol 57, p.569-571.
  5. Khafagy S.M; Gharbo S.A; Abdel Salam N.A; 1975, "Phytochemical Study of Euphorbia peplus"., Planta Medica, vol 27, p.387-394.
  6. Lanhers M.C; Fleurentine J; Dorfman P; Mortier F; Pelt J.M; 1991. "Analgesic, Antipyretic and Anti-Inflamatory Properties of Euphorbia hirta"., Planta Medica, 57, 225-231.
  7. Mardisiswojo S; Radjak mangunsudarso H; 1965, Tjabe Pujang Warisan Nenek Mojang, Cetakan Pertama, Penerbit Prapantja, hal.52.
  8. Perry L.M., 1980, Medicinal Plants of East and Southeast Asia : Attributed, Properties and Uses., The MIT Press., Massachusetts., P.143.
  9. Speroni E; Colletti B; Minghetti A; Perellino N.C; Guicciardi A; 1991, " Activity on the CNS of Crude Extracts and Some Diterpenoids Isolated from Euphorbia Calyptrata Suspended Culture"., Planta Medica, 57, p.531-535.
  10. Sri Sugati, 1991 Sugati S., Johny Ria Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Jilid I., Balitbang Kesehatan., DepKes RI. Jakarta., P.244-245.
  11. Van Steenis M.J; 1963, Select Indonesian Medicinal Plants, Bulletin No.18, Organization for Scientific Research in Indonesia, p.22.
  12. Watt J.M., & M.G. Breyer-BrandWijk, 1962, The Medicinal and Poisonous Plants of Southern and Eastern Africa., 2nd Ed., E.S. Livingstone Ltd. London., p.408-411.

0 comments:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites